Kunker ke Kabupaten Padang Lawas, Gubernur Fokus Pada
Perbaikan Infrastruktur Jalan
PADANG LAWAS,(KBNLIPANRI ONLINE ) – Perbaikan infrastruktur
jalan menjadi fokus utama Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi ketika
mengadakan kunjungan kerja (Kunker) ke Kabupaten Padang Lawas. Karena
perjalanannya menuju Kabupaten Padang Lawas (Palas) jalan yang dilalui hampir
seluruhnya rusak.
FOTO
Gubernur
Sumatera UtaraEdy Rahmayadi ketika
mengadakan pertemuan dengan Organisasi Pimpinan Daerah, Camat, Kepala Desa,
Bhabinsa, Bhabinkamtibmas dan Organisasi Kemasyarakatan di Halaman Depan Kantor
Bupati Kabupaten Padang Lawas, Rabu (10/4/2019).
"Kadis PU Sumut, jalan yang rusak di Kabupaten Palas
ini segara diperbaiki dalam waktu singkat ini. Saya akan datang lagi nanti ke
Palas ini," ujar Gubernur saat bersilaturahmi dengan Bupati, OPD, Camat,
Kepala Desa, Lurah, Kepala Sekolah se Kabupaten Padang Lawas, Rabu (10/4) di
Kantor Bupati Palas.
Sehingga anekdot yang menyebut bahwa kalau sudah terasa
lubang di jalan itu berarti sudah masuk daerah Sumut, tidak ada lagi.
"Kalau ada bunyi ‘gedebuk’ itu tandanya sudah masuk Sumatera Utara. Jangan
ada lagi itu," tegas Gubernur.
Gubernur juga mengingatkan kepada para kepala desa, Babhinsa
dan Bhabinkamtibmas agar benar-benar membangun desa dan memperhatikan
kesejahteraan rakyatnya. Apalagi jelang Pemilu yang tinggal menghitung hari
ini, jangan ikut memikirkan apa yang menjadi pilihan rakyatnyapada Pemilu nanti. "Undang-undangannya
sudah jelas, TNI undang-undangnya ini, Polisi Undang-undangannya ini, begitu
juga ASN. Biarkan rakyat berpesta dalam demokrasi ini," sebut Gubernur.
Dalam kesempatan itu, Edy Rahmayadi juga berterima kasih
kepada masyarakat Palas yang 80 persen telah mengamanahkan dirinya menjadi
Gubernur Sumut. "Saya akan bekerja untuk menunaikan amanah itu. Sama-sama
kita bangun Kabupaten Padanglawas ini, agar rakyatnya sejahtera mewujudkan
Sumatera Utara bermartabat," katanya.
Bupati Palas Ali Sutan Harahap dalam sambutannya
mengharapkan kepada Gubernur Edy Rahmayadi agar Kabupaten Palas menjadi
prioritas pembangunan. " Banyak jalan provinsi di Palas yang rusak dan
perlu perbaikan, salah satunya Jalan dari Padang Lawas Utara (Paluta) menuju
Kota Sibuhuan, Ibu Kota Palas," katanya.
Jelang pemilu 17 April 2019, lanjut Bupati, persiapan
pelaksanaan Pemilu diPalas secara umum
berlangsung dengan lancar dan seseuai dengan jadwal yang telah ditetapkan
KPUPalas. "Stabilitas daerah
Kabupaten Padang Lawas yang terdiri dari 12 kecamatan, 303 desa dan satu
kelurahan jelang Pemilu 17 April 2019 juga dalam keadaan kondusif. Ini akan
tetap kami jaga dan pertahankan agar pelaksanaan agenda nasional ini berjalan
dengan sukses," ujar Bupati.
Sebelumnya, kedatangan Gubernur Edy Rahmayadi bersama Ketua
TP PKK Provinsi Sumut Nawal Lubis Edy Rahmayadi dan rombongan disambut Bupati
Padang Lawas Ali Sutan Harahap, yang ditandai dengan pemberian ulos kepada
Gubernur oleh Bupati dan Sekda Kabupaten Palas Arpan Nasution.
Turuthadir pada
kesempatan tersebut pimpinan DPRDPalas,
Forkopimda, Kepala Kantor Kemenag Palas Anwar Hasibuan,para kepala OPD Pemprov Sumut dan Palas,
Camat, Kepala Desa, Babinsa, Kepala Sekolah SMA/SMK se-Kabupaten Palas.( LM)
Terima Kunjungan BNN Provinsi Sumut, Sabrina : Lindungi
Pelajar dari Bahaya Narkoba
MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE ) – Para pelajar merupakan aset
bangsa di masa depan dan juga merupakan tonggakpembangunan bangsa Indonesia, karena itu harus dilindungi, termasuk dari
bahaya narkoba. Karena itu, sosialisasi tentang bahaya narkoba kepada para
pelajar dan orang tua harus menjadi perhatian bersama.
FOTO
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Drs. Ir. Hj. R.
Sabrina, M. Si saat menerima audiensi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN)
Provinsi Sumatera Utara Brigjen Atrial, SH bersama rombongan di Ruang Kerja
Sekdaprovsu Lt. IX Kantor Gubernur Sumatera Utara Jalan Diponegoro No 30 Medan,
Selasa (12/3).
Demikian disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera
Utara (Sekdaprov Sumut) Sabrina ketika menerima kunjungan Badan Nasional
Nakotika (BNN) Provinsi Sumut, Selasa (12/3) di ruang kerjanya, Kantor Gubernur
Sumut Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan. “Ini harus menjadi perhatian
kita bersama. Pelajar jangan sampai terkontaminasi narkoba,” ujarnya.
Menurut Sabrina, istilah sosialisasi pengenalan narkoba yang
selama ini digunakan, juga harus diganti untuk sosialisasi bahaya narkoba.
Sehingga begitu mendengar kata ‘bahaya’ orang akan tersadar dan terbayang
tentang mengerikannya dampak buruk narkoba itu.
Tidak hanya kepada para siswa dan guru di sekolah.
Sosialisasi bahaya narkoba juga perlu dilakukan terhadap para orang tuanya.
Sehingga para orang tua mengerti apa itu narkoba dan bahayanya, serta
tanda-tanda orang yang terkontaminasi narkoba.
“Dengan begitu, diharapkan para orang tua dapat menjelaskan
kepada anaknya tentang bahaya narkoba, serta tetap mengawasi anaknya, bahkan
sampai di kamar. Jangan dikira anak belajar di kamar, ternyata lagi memakai
narkoba," harap Sabrina.
Kepada para orang tua, juga harus diberi penjelasan, tentang
apa yang harus dilakukan dan harus mengaku ke mana, jika mendapati anaknya
sudah terkontaminasi narkoba. Sehingga tidak kebingunan atau justru
menutup-nutupinya, jika tahu mengetahui ternyata terkontaminasi narkoba. “Untuk
itu, kerja sama Pemprov Sumut dan BNN dalam hal ini sangat penting untuk
dilakukan. Sehingga generasi muda kita terbebas dari bahaya narkoba,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BNN Provinsi Sumatera Utara Brigjen
Atrial SH menyampaikan, bahwa BNN Provinsi Sumut perlu mengadakan kerja sama
dengan Pemprov Sumut dalam rangka sosialisasi tentang bahaya narkoba, termasuk
kepada para pelajar. “Apalagi, berdasarkan data yang ada, sedikitnya 24% dari
3,3 juta pelajar di Indonesia yang terkontaminasi narkoba,” katanya.
Untuk itu, Atrial berharap, Pemprov Sumut dapat menyurati
seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumut agar bersama-sama menggalakkan
sosialisasi bahaya narkoba. Serta mengaktifkan kembali rumah sakit dan
puskesmas yang menjadi institusi penerima wajib lapor (IPWL). Sehingga dapat
membantu penanganan para korban narkoba di daerah masing-masing.( LM )
MEDAN, ( KBNLIPANRI ONLINE ) - Wakil Gubernur Sumatera Utara
(Wagub Sumut) Musa Rajekshah mengharapkan seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota
se-Kepulauan Nias mendukung pelaksanaan kegiatan Sail Nias 2019. Sehingga
kegiatan bertaraf internasional ini tidak hanya sukses dan lancar dalam
pelaksanaannya, tetapi juga mampu memperkenalkan kepulauan Nias di mata dunia.
FOTO
Wagub Sumut Musa Rajekshah didampingi
Sekdaprov Sumut Sabrina pada rapat persiapan Sail Nias 2019, Jumat (8/3) di
Ruang Rapat Kaharuddin Nasution, Lantai 8 Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran
Diponegoro Nomor 30 Medan.
Hal itu disampaikan Wagub Musa Rajekshah yang didampingi
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut Sabrina pada rapat persiapan Sail
Nias 2019, Jumat (8/3) di Ruang Rapat Kaharuddin Nasution, Lantai 8 Kantor
Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan.
“Seil Nias ini membuktikan kalau Sumut memiliki daya tarik
yang tak kalah indah dari daerah lain, seperti Bali. Maka kita berharap event
bertaraf international ini mampu menarik wisatawan domestik juga asing untuk
berkunjung menikmati suasana wisata kepulauan Nias,” ujar Wagub.
Karena itu, pesan Wagub, yang pertama harus dilakukan adalah
perbaikan infrastruktur, mulai dari jalan hingga pembangunan fasilitas umum
lainnya harus dipercepat, agar tidak ada kendala pada saat event berlangsung.
“Infrastruktur itu sangat penting untuk dilakukan percepatan, hingga saat
dimulainya event tidak terjadi kendala yang dapat menganggu acara yang bertaraf
international tersebut,” jelasnya.
Musa Rajekshah juga menyampaikan, agar kegiatan ini nantinya
tidak hanya berhenti pada tahun ini, melainkan menjadi agenda tahunnya yang
harus diselenggarakan setiap tahun di Kepulauan Nias. “ Saya juga berharap
kegiatan ini menjadi agenda tahunan di kepulauan Nias , dan harus lebih menarik
setiap tahun, agar wisatawan dalam dan luar negeri tertarik untuk melihat dan
berkunjung setiap tahunnya,” katanya.
Sementara itu, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi
SumutHidayati menjelaskan, rencananya
event Sail Nias akan dilaksanakan di Nias Selatan pada September 2019 dan
melibatkan seluruh kabupaten/kota di Kepulauan Nias. Serta melibatkan
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Sumut dan kabupaten/kota di Sumut,
untuk ikut memeriahkan event tersebut.
Akan ada banyak acara di Sail Nias. Mulai dari kebudayaan,
olah raga, kuliner, serta aksi lompat batu yang merupakan andalan Kepulauan
Nias. "Puncaknya ada aksi seremonial, gelar budaya, pameran, bakti sosial
dan pelayanan kesehatan, atraksi kelautan dan peresmian beberapa pelaksanaan
pembangunan," jelasnya.
Tujuan pelaksanaan Sail Nias tersebut, kata Hidayati adalah
sebagai salah satu upaya percepatan pembangunan daerah kepulauan dan daerah
terpencil, khususnya di Kepulauan Nias. Kemudian menggalang keterpaduan,
sinergi program dan anggaran lintas Kementerian/Lembaga dan Daerah dalam rangka
pelaksanaan pembangunan serta mewujudkan kesejahteraan rakyat secara
berkelanjutan.
"Tujuan lainnya yaitu mempromosikan lokasi kegiatan
sebagai tujuan wisata nasional dan internasional. Kita ingin mengukuhkan
kembali kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari yang hidup di Negara
Kepulauan, dan mengembangkan rute pelayaran kapal-kapal ke perairan
Indonesia,"ungkapnya.
Turut hadir pada rapat tersebut sejumlah OPD Pemprov Sumut,
serta para Bupati dan Walikota se Kepulauan Nias.( LM )
Berpotensi Semarakkan Pariwisata Sumut, Gubernur Dukung
Festival Seni Budaya DKSU
MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE ) - Gubernur Sumatera Utara
(Sumut) Edy Rahmayadi mengapresiasi serta mendukung penuh Festival Seni dan
Kebudayaan Sumut yang akan dilaksanakan Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU)
pada tanggal 19-24 Maret mendatang. Menurutnya, kegiatan-¬kegiatan seperti
festival tersebut berpotensi semarakkan pariwisata Sumut.
Gubernur
Sumatera UtaraEdy Rahmayadi menerima
kunjungan Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) di ruang kerjanya Lantai 10
Kantor Gubernur Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Rabu (27/2/2019). Gubernur
mengapresiasi serta mendukung penuh rencana Festival Seni dan Kebudayaan
Sumatera Utara (Sumut) yang akan dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Sumatera
Utara (DKSU) pada tanggal 19-24 Maret 2019 mendatang
“Bagus ini, festival ini kan merupakan salah satu metode
sosialisasi seni dan budaya. Sehingga lebih banyak masyarakat yang kenal dengan
keberagaman seni dan budaya kita di Sumut ini, dengan begitu menarik minat
orang untuk berwisata ke sini,” ujarnya saat menerima kunjungan dari Ketua DKSU
Baharuddin Saputra beserta rombongan di ruang kerjanya lantai 10, Kantor Gubsu
Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan, Rabu (27/2).
Pariwisata sebagai salah satu sektor yang juga
diprioritaskan oleh Pemprov Sumut, kata Edy, membutuhkan strategi dan
rencana-rencana yang mantap untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Sumut.
“Festival ini salah satu contohnya, semakin banyak event-event seperti ini,
apalagi tersebar di media, akan memberi kesan positif tentang Sumut,” ucapnya.
Saat ini, kata Gubernur, Pemprov sedang berusaha untuk
meningkatkan kunjungan wisatawan dari 230.000 hingga 500.000 pengunjung. Karena
itu disayangkan, jika masih ada kesan-kesan negatif yang ditampilkan tentang
Sumut di media, seperti demo, kriminal, dan lainnya. “Hal-hal seperti ini kan
tentu mengurangi minat orang untuk datang dan berinvestasi, nah kita butuh
kegiatan seperti ini yang menyejukkan,” tuturnya.
Edy Rahmayadikemudian berpesan agar kegiatan yang akan
dilaksanakan tersebut direncanakan dengan baik dan detail. Seluruh kesenian dan
kebudayaan dari delapan etnis harus tergambar pada festival nantinya. “Hubungan
kita dengan seni dan budaya kental sejak dulu, tolong hidupkan dan kembalikan
lagi itu,” katanya.
Sebelumnya, Ketua DKSU Baharuddin Saputra menyampaikan
terima kasih kepada Gubernur Edy yang telah menerima dirinya dan rombongan.
Baharuddin menjelaskan bahwa DKSU berencana untuk menyelenggarakan Festival
Seni Budaya Sumut pada tanggal 19-24 Maret 2019 di Taman Budaya Sumut.
“Di sana nantinya akan digelar parade budaya dimulai dari
Lapangan Merdeka hingga lokasi utama. Setelah itu beralngsung beberapa lomba,
pameran lukisan dan fotografi, pertunjukan dan atraksi, intinya akan ada banyak
stage di sana. Kita harapkan kehadiran Bapak untuk membuka festival nantinya,”
ucapnya.
Baharuddin juga menjelaskan bahwa Festival Seni Budaya ini
merupakan festival perdana dan merupakan gebrakan dari kepengurusan DKSU
periode 2017-2022 untuk tahun 2019. Seluruh kabupaten/kota akan diinformasikan
untuk turut memeriahkan festival.( lm )
RPJMD Sumut 2018-2023 Ditetapkan Gaji Guru Honorer Naik jadi
Rp 90.000/Jam
MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE ) – Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tahun 2018-2023
ditetapkan dalam rapat paripurna DPRD Sumut, Senin (25/2) di gedung DPRD Sumut,
Jalan Imam Bonjol Nomor 5, Medan. Pendidikan menjadi salah satu program
prioritas, dari lima program yang dirancang untuk mewujudkan RPJMD tersebut.
FOTO
Gubernur
Sumatera Utara (Gubsu ) Edy Rahmayadi menghadiri Rapat Paripurna
PengesahanRencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Utara di Gedung Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRD Sumut) Jalan Iman Bonjol Medan,
Dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Sumut Wagirin
Arman, Gubsu Edy Rahmayadi mengatakan, untuk mewujudkan masyarakat yang
terpelajar, berkarakter, cerdas, berdaya saing dan mandiri, sasaran bidang
pendidikan diarahkan kepada peningkatan kualitas dan keterjangkauan layanan
pendidikan dengan target tercapainya angka rata-rata lama sekolah 10,5
tahun.
Hal ini dilakukan melalui upaya peningkatan kualitas dan
kompetensi guru, serta penambahan gaji guru honorer menjadi Rp 90.000 per jam,
dari semula usulan DPRD hanya Rp 60.000 per jam. “Itu sudah saya hitung,
makanya saya berani menetapkan angka itu, bahkan saya mau kalau bisa Rp 100.000
per jam, tapi kita syukuri ini bisa naik dari saat ini guru-guru honor hanya
menerima Rp 40.000 per jam, tahun ajaran baru nanti kebijakan ini akan saya
berlakukan,” ungkap Gubsu Edy.
Untuk peningkatan kualitas dan keterjangkauan layanan
pendidikan, Gubsu memasang target 10,5 tahun angka rata-rata lama sekolah yang
mendapat bantuan bersubsidi. “Sebenarnya bila mengacu pada perintah
undang-undang harusnya sampai 12 tahun, tapi saat ini uang kita belum cukup,
kalau dihitung-hitung bisa Rp 300 miliar - Rp 400 miliar per tahun untuk kita
mensubsidi sekolah,” jelasnya.
Lalu untuk pemerataan pendidikan di daerah-daerah, Gubsu
akan membuat program ‘Guru Terbang’ dalam rangka pemenuhan kebutuhan guru di
wilayah tertinggal. “Nanti guru-guru yang sudah PNS atau pun honor akan kita
jadwalkan untuk mengajar ke daerah tertinggal, sebagai imbalannya akan kita
berikan insentif,”tambahnya.
Program prioritas lainnya, untuk mewujudan visi “Sumut yang
maju, aman dan bermartabat” dalam RPJMD adalah pelayanan kesehatan berkualitas,
penyediaan lapangan kerja, insfrastruktur yang baik, dan mengembalikan Sumut
pada sektor agraris dan pariwisata. Dengan sasaran utama “Membangun Desa Menata
Kota”.
Untuk bidang kesehatan, kata Gubsu, diarahkan kepada
peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan target pencapaian usia harapan
hidup 70 tahun. Hal ini dilakukan melalui upaya peningkatan kerja sama dengan
pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota dalampeningkatan kompetensi SDM tenaga kesehatan,
sarana prasarana, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pengembangan rumah
sakit umum daerah sebagai rumah sakit rujukan. “Serta pengembangan rumah sakit
provinsi (Rumah Sakit Haji Medan) bertaraf internasional, yang diharapkan dapat
mengurangi masyarakat yang berobat ke luar negeri,” ujarnya.
Dengan langkah-langkah dan koordinasi tersebut, maka
diharapkan dapat mendorong terwujudnya penurunan angka kematian ibu, angka
kematian bayi, balita stunting dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat.
Lalu untuk bidang ketenagakerjaan, akan dibangun pusat
inovasi dan industri kreatif antara lain di Samosir, Langkat, Tapanuli Tengah
dan Medan. Sedangkan untuk menunjang bidang infrastruktur, antara lain akan
dilakukan peningkatan konektivitas antar wilayah melalui pembangunan dan
peningkatan jalan dan jembatan dengan target terwujudnya ‘Jalan Mantap’ 90
persen. Pembangunan proyek strategis pun akan dipacu seperti pembangunan Jalan
Tol Sumatera, Kereta Api Tran Sumatera dan Pelabuhan Kuala Tanjung, serta
peningkatan akses transportasi menuju destinasi wisata seperti Bahorok
(Langkat), Pulau Berhala (Serdang Bedagai) dan Danau Siais (Tapanuli Selatan).
Terakhir, dalam bidang pertanian dan pariwisata, kesejahteraan
petani adalah prioritas utama, dengan menggalakkan upaya pengembangan kawasan
agribisnis dan agro-industrilewat
program one region one product. Sentra peternakan pun akan dikembangkan
terutama pada daerah Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Asahan, Tapanuli Selatan
dan Labuhan Batu.
Sementara itu, Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman mengapresiasi
keseriusan Gubsu Edy Rahmayadi untuk membangun Sumut. Khususnya dalam
penyusunan RPJMD Sumut 2018-2023 yang baru ditetapkan. “Pada rapat ini saya
sampaikan apresiasi kepada Gubsu, dalam keseriusannya untuk membangun Sumut,”
ujar Wagirin.
Turut hadir dalam rapat itu, Sekretaris Daerah Provinsi
Sumut Sabrina, anggota DPRD Sumut, OPD Pemprovsu dan perwakilan Forkopimda
Sumut. ( lm )
Peringatan HPS Di Seputaran Danau Griya Martubung (kecil)
Wakil Wali Kota & Dandim 0201/BS Ikut Pungut Sampah & tanam Pohon
Medan (KBNLIPANRI
ONLINE )
Peringatan Hari Peduli Sampah di Kota Medandipusatkan di seputaran DanauGriya Martubung Jalan Pancing, Kelurahan
Besar, Kecamatan Medan Labuhan, Kamis (21/2).Selain penanam pohon, peringatan ditandai dengan menggelar aksi bersih
pungut sampah. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi sekaligusmengedukasi masyarakat untuksenantiasa hidup bersih dengan tidak membuang
sampah sembarangan.
Wakil Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSibersama Dandim 0201/BS hadir dalam acara
peringatan Hari Peduli Sampah (HPS) tersebut. Selain mengutip sampah, keduanya
juga ikut menanam pohon untuk penghijauan di pinggiran Danau Griya Martubung
bersama Asisten Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Khairul Syahnan
beserta seluruh peserta dan penggiat kebersihan.
Aksi bersih pengutipan sampah juga didukung personel Kodim
0201/BS beserta jajaran Kecamatan Medan Labuhan. Dari lokasi acara, seluruh
peserta berjalan mengitari pinggiran Danau Griya sambil memunguti sampah. Di
samping itu juga melakukan pembersihan jalan dan membabat rumput dan gulma
menggunakan mesin babat.
Usaiaksi bersih
pungut sampah dan penanaman pohon dilakukan, Wakil Wali Kota berharap melalui
peringtatan HPS yang mengusungtema,
“Kelola Sampah Untuk Hidu[p Bersih, Sehat dan Bernilai” agarseluruh masyarakat Kota Medan untuk
bersama-sama menjaga kebersihan. Hal ituharus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan tempat tinggal
maasing-masing.
“Tanpa dukungan penuh seluruh elemen dan lapisan
masyarakat,sangat sulit untuk
mewujudkan kebersihan di Kota Medan. Dukungan itu dapat diwujudkan dengan
mewadahi sampah rumah tangga masing-masing untuk mempermudah petugas kebersihan
mengangkutnya menuju tempat pembuangan sementara (TPS) hingga tempat pembuangan
akhir (TPA),” kata Wakil Wali Kota.
Diungkapkan Wakil Wali Kota, setiap hari sampah yang
dihasilkan sekitar 2.000 ton. Dari jumlah itu, 50 % diantaranya merupakan
sampah dari rumah tangga. Oleh karenanya apabila masyarakat dapat mengatasi
sampah rumah tangga tersebut, tentunya sangat membantu tugas pemerintah untuk
mewujudkan kebersihan.
"Tanpa kepedulian kita bersama, mustahil kota yang kita
cintai bersama ini akan bersih. Untuk itumelalui peringatan HPS ini, saya mengajak seluruh masyarakat untuk terus
berpartisipasi mendukung kebersihandi
Kota Medan. Selain mewadahi sampahnya masing-masing,mari terus jaga kebersihan dengan tidak
membuang sampah sembarangan,” pesannya.
Setelah itu Wakil Wali Kota meninjau lokasi pembuatan pupuk
yang bahan dasarnya berasal dari tanaman encek gondok. Mantan Wakil Wali Kota
sangat mengapresiasi langkah cerdas tersebut, selain untuk mendukung penyuburan
tanaman, juga mampu membersihkan permukaan Danau Griya Martubung yang saat ini
dipenuhi enceng gondok. Dalam peninjauan tersebut, Wakil Wali Kota sempat
mencoba langsung proses pembuatan puput dari tanaman encek gondok tersebut.
Kemudian Wakil Wali Kota bersama Kepala Dinas Kebersihan dan
Pertamanan Kota Medan diwakili Zul Fachri Ahmadi selaku Sekretaris mengikuti
sarasehanpenggiat persampahan yang
menghadirkan sejumlah pembicara dari pengamat lingkungan dan penggiat
kebersihan di Kota Medan. Acara juga dirangkaikan dengan tanya jawab dan solusi
mengatasi sampah guna mewujudkan kebersihan di Kota Medan.
Sebelumnya Kabid Operasi Persampahan Dinas Kebersihan dan
Pertamanan Kota Medan Baharuddin Harahap dalam laporannya menjelaskan,tujuan digelarnya peringatan HPSuntuk membangun kesadaran bersama untuk hidup
bersih dan sehat melalui pengelolaan sampah. Di samping itu untuk mendorong
budaya bersih dan produktif di tengah masyarakat dnegan partisipasi masyarakat
sebagai modal sosial.
“Selain itu melalui peringatan HPS, kita juga ingin
meningkatkan peran aktif dan langkah-langkah pemerintah daerah serta masyarakat
luas dalam pengelolaan sampah. Serta membangun sinergi upaya pemerintah,
masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan sampah,” papar Baharuddin. (lm)
Car Free Day yang berlangsung setiap minggu di seputaran
Lapangan Merdeka Medan, semakin menarik minat masyarakat Kota Medan untuk
berolahraga. Terbukti, masyarakat yang melakukan olahraga secara massal semakin
banyak. Program yang digelar Pemko Medan ini telah berhasil membudayakan
berolahraga bagi masyarakat serta menciptakan lingkungan yang sehat, bersih dan
asri pada setiap minggunya.
Sejak pukul 06.00 WIB, warga telah berdatangan ke Lapangan
Merdeka. Mereka berolah raga dengan berlari dan berjalan di dalam maupun di
luar Lapangan Merdeka.
Selain berlari, berjalan santai, bermain badminton, banyak
sekali warga yang antusias mengikuti senam jantung sehat yang digelar Pemko
Medan bekerjasama dengan Yayasan Jantung Indonesia Cabang Utama Sumut.
Car Free Day atau biasa disingkat CFD, kerap pula menjadi
ajang bagi instansi pemerintah maupun swasta dan organisasi masyarakat untuk
melaksanakan kegiatan diantaranya penyuluhan maupun sosialisasi seperti yang
dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU)) Kota Medan, yang memanfaatkanmomentum CFD untuk mensosialisasikan pemilu
serentak dan Penyuluhan Bahaya Narkoba yang dilaksanakan oleh Kejaksaan Tinggi
Sumatera Utara, Minggu (17/2) di Lapangan Merdeka, Medan.
Wakil Wali Kota Medan, Ir. H. Akhyar Nasution, M.Si. yang
tampakikut berolah raga sembari menyapa
dan mengingatkan warga yang berokah raga untuk menjaga kebersihan Lapangan
Merdeka, juga turut menghadiri sosialisasi Pemilu Serentak yang digelar KPU
Medan bersama Relawan Demokrasi (Relasi).
Dalam sosialisasi ini, warga juga mendapat informasi soal
Pemilu Serentak.Masyarakat tampak
sangat antusias dengan sosialisasi yang dilakukan. Keingintahuan warga yang
sangat tinggi terkait informasi kepemiluan dirasakan langsung saat KPU Kota
Medan dan Relasi menyebarkan brosur sosialisasi dan membuka stand cek daftar
pemilih.
“Kami merasakan bagaimana masyarakat sangat antusias dengan
informasi dan sosialisasi tentang Pemilu Serentak 17 April 2019 yang saat ini
dilakukan. Lihat saja warga berkerumun untuk mendapatkan selebaran dan brosur
sosialisasi,” kata Ketua KPU Kota Medan Agussyah Ramadani Damanik didampingi
komisioner lainnya Edy Suhartono, Nana Miranti, M. Rinaldi Khair dan Sekretaris
KPU Medan Nirwan di Lapangan Merdeka Medan.
Target sosialisasi kali ini adalah untuk memastikan
masyarakat mengetahui ada lima jenis surat suara yang akan dicoblos pada hari
pemungutan suara yakni calon presiden dan wakil presiden, calon DPD RI, calon
DPR RI, calon DPRD Provinsi dan calon DPRD Kabupaten/Kota. Setelah itu
memastikan bahwa warga yang mengunjungi stand KPU Kota Medan sudah terdaftar
dengan memeriksanya melalui aplikasi online KPU RI Pemilu 2019.
Usai menghadiri sosialisasi, Wakil Wali Kota tidak lupa
untukterus mengingatkan kepada warga
Medan agar menggunakan hak suaranya pada Pemilu Aprilmendatang. Karena menurut Wakil Wali Kota,
demokrasi tidak akan berjalan jika rakyatnya tidak mau atau tidak peduli dengan
Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif.
“Keterlibatan masyarakat dalam politik sekurang-kurangnya
adalahdengan pergi ke TPS dan
menggunakan hak suaranya dengan benar. Halini harus terus kita sosialisasikan hinggamasyarakat menyadari bahwa setiap individu di
negara ini memiliki hak dan tanggungjawab atas kemajuan negaranya”, ujar
Akhyar.
Selain mengingatkan warga untuk menggunakan hak pilihnya,
Akhyar juga menyampaikan untuk terus menjaga persatuan dan rasa persaudaraan
diantara warga Medan.Perbedaan pilihan
itu hal yang biasa, tambah Akhyar, tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk
terpecahbelah.
“Perbedaan pilihan harus disikapi dengan kejernihan pikiran.
Bahwa setiap manusia memiliki pemikiran dan analisis sendiri dalam memilih
pemimpin nanti. Itu harus sama-sama kita hargai sebagai manusia demokrasi yang
dewasa. Jangan langsung percaya dan termakan berita hoax apalagi menyebarkan
berita hoax dan akhirnya memperkeruh suasana,” ungkap Akhyar yang juga
didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Marah Husin.(team)
Dampingi Mensos Serahkan Bansos, Wagubsu Harapkan Program
Terlaksana Berkelanjutan
MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE) – Wakil Gubernur Sumatera Utara
(Wagubsu) Musa Rajekshah berharap penyerahan bantuan sosial (Bansos) berupa
paket bahan pokok kepada 1000kepala
keluarga (KK) masyarakat kurang mampu di Kota Medan akan terus terlaksana secara
berkelanjutan. Begitupun dengan jumlah penerima, diharapkan akan bertambah
banyak dari jumlah penerima saat ini.
Harapan ini disampaikan Wagubsu kepada Menteri Sosial
(Mensos) RI Agus Gumiwang Kartasasmita saat mengawali acara Penyerahan Bansos
Sembako kepada 1000 Kepala Keluarga Masyarakat Kurang Mampu Kota Medan, Kamis
(14/2), di Lapangan Benteng Jalan Pengadilan, Medan Petisah.
“Kami selaku pemerintah daerah tentunya sangat berterima
kasih, khususnya kepada Bapak Menteri yang sudah datang berkunjung hari ini dan
menyerahkan bantuan kepada masyarakat kita yang kurang mampu. Semoga, akan ada
program lanjutan berikutnya dengan jumlah penerima yang lebih besar,” ucap
Wagubsu Musa yang juga akrab disapa dengan Ijeck.
Selain penyerahan Bansos, Ijeck kemudian juga memberi saran
agar ada program-program yang bersifat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.
Sehingga masyarakat penerima dibekali dengan kemampuan-kemampuan yang menunjang
kehidupannya sehari-hari.
“Kita melalui Dinas Sosial sedang mempersiapkan ini, dan
mudah-mudahan pertemuan dengan Bapak Menteri hari ini akan berlanjut dengan
koordinasi-koordinasi berikutnya, dimana kita yang di daerah ini akan jemput
bola agar lebih banyak lagi program-program Kementerian, khususnya Kemensos,
yang terlaksana di Sumut ini,” tutur Ijeck.
Sementara itu, Mensos RI Agus Gumiwang Kartasasmita
menyampaikan bahwa dirinya setuju dengan usulan dan harapan yang telah
disampaikan Wagubsu untuk memperbanyak program serupa dengan jumlah penerima
yang lebih banyak. “Kami tentunya pemerintah pusat sangat mendukung
inisiatif-inisiatif dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam
meningkatkan kualitas hidup warga masing-masing. Selama komunikasi dan
koordinasi kita semua lancar, program-program serupa seperti ini bisa kita
laksanakan lebih sering bersama-sama,” katanya.
Selain penyerahan Bansos, kata Agus, telah banyak pula
program-program Kemensos sebelumnya yang telah terlaksana dalam upaya untuk
menekan angka kemiskinan dan menyejahterakan kehidupan masyarakat. Diantaranya
seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Kelompok Usaha Bersama (KUBE),
Pelayanan Sosial Lanjut Usia, dan lainnya.
Walikota Medan Dzulmi Eldin berharap agar bantuan yang
diterima 1000 KK masyarakat kurang mampu bisa meringankan belanja kebutuhan
bahan pokok warga. Eldin menyampaikan bahwa saat ini masih ada sekitar 129.613
keluarga miskin di Kota Medan, 65.342 telah menjadi keluarga penerima manfaat
(KPM) dari program Kemensos. “1000 keluarga hari ini, kita pilih yang belum
menerima bansos sebelumnya dan akan kita upayakan agar lebih banyak KPM
berikutnya, sehingga berkurang masyarakat miskin di Kota Medan,” jelasnya.
Badmani (33), seorang ibu orang tua tunggal bagi 3 anak
menjadi salah satu penerima Bansos dari Kemensos. Warga Medan Polonia ini
sehari-harinya hanya bekerja sebagai loper koran. Dirinya mengaku bersyukur
memperoleh Bansos. “Membantu sekali lah pastinya, semoga program seperti ini
terus berlanjut. Tetapi kedepannya semoga jangan bantuan saja, ada pelatihan
atau bantuan modal, sehingga bisa terus-menerus kita pakai keahlian atau modal
itu untuk bekerja dan menghasilkan uang sendiri, mandiri lah istilahnya,” ujar
Badmani.
Secara simbolis Bansos diserahkan kepada 10 perwakilan warga
secara langsung oleh Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita didampingi Wagubsu Musa
Rejakshah serta Walikota Medan Dzulmi Eldin. Turut hadir dalam acara tersebut
anggota DPR RI Meutya Hafid, pejabat dan staf Kemensos RI, Forkopimda Provsu
dan Kota Medan, OPD Pemprovsu dan Kota Medan, serta masyarakat penerima
Bansos.( team )
Kampanyekan Kesehatan Ibu Anak, Ketua TP PKK Provsu Ajak
Semua Elemen Bersinergi
MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE ) - Sebagai salah satu upaya
mengampanyekan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Sumatera Utara (Sumut),
Ketua Tim Pengerak (TP) Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi
Sumatera Utara (Provsu) Nawal Lubis Edy Rahmayadi mengajak semua elemen,
khususnya PKK di kabupaten/kota untuk saling bersinergi.
Demikian dikatakan Nawal Lubis usai hadir pada Workshop
Kampanye Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir untuk Mendukung Upaya Penurunan
Angka Kematian Ibu (AKI)dan Angka
Kematian Neonatal (AKN) di Sumut yang digelar USAID-Jalin di Hotel Adi Mulia
Medan, Selasa (12/2).
Dalam kesempatan itu, Nawal juga hadir bersama Wakil Ketua
TP PKK Provsu Sri Ayu Mihari Musa Rajekshah. Ia menyebutkan bahwa program
USAID-Jalin tersebut sangat bagus dan layak didukung. "Untuk semua ibu-ibu
PKK mari kita bersinergi untuk ikut berpartisipasi menurunkan angka kematian
ibu dan anak baru lahir ini," ucapnya.
Menurutnya, walaupun sebelumnya program ini telah
dilaksanakan dan belum berhasil, pihaknya meminta agar seluruh pihak tetap
berkomitmen melaksanakan program tersebut.
Dalam workshop itu sendiri turut dihadiri beberapa elemen
yang berkaitan langsung untuk mengampanyekan kesehatan ibu dan anak baru lahir.
Beberapa elemen yang menjadi peserta yakni para jurnalis media cetak dan
elektronik, ibu-ibu PKK, Diskominfo, tokoh agama di Sumut dan lain sebagainya.
Dalam workshop itu mereka dibagi dalam kedua kelompok untuk
mencari isu-isu apa saja yang berkaitan dengan pengampanyean kesehatan ibu dan
bayi baru lahir di Sumut, kemudian siapa saja yang layak terlibat dan sarana
apa yang layak digunakan untuk proses kampanye tersebut.
Konsultan USAID-Jalin, dr Fatmi Sulani mengatakan, dari
workshop tersebut diharapkan, masyarakat dapat mangetahui perannya dan ibu
dapat mengetahui haknya. "Media mulai dari sekarang juga bisa melihat mana
suami-suami yang gendong anak, difoto dan disiarkan. Karena tidak ada satu pun
suami yang menghadiri kelas hamil. Kemudian soal kampanye pernikahan dini,
bahaya pernikahan dini dan lain sebagainnya," sebutnya.
Sementara Communications Specialist USAID-Jalin, Chatrine
Siswoyo berharap peran dari Forum Media Peduli Kesehatan Ibu dan Anakuntuk terus menerus mengampanyekan soal
kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Sumut. "Karena ini bukan hanya tugas
dari bidang kesehatan saja, melainkan tugas dari kita semua untuk ikut
mengampanyekan, termasuk media. Semoga dari forum ini ada langkah-langkah yang
kita buat dan solusi yang ditawarkan kepada masyarakat di Sumut," ucapnya.
( team )
Gubsu Motivasi Pejabat dan Pegawai Bank Sumut, Kekosongan
Dirut Jangan Menjadikan Kegelisahan dan Kemunduran
MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE ) – Gubernur Sumatera Utara
(Gubsu) Edy Rahmayadi memberi motivasi para pejabat dan pegawai Bank Sumut
dalam rangka penguatan internal. Salah satu pesan penting yang disampaikan,
agar kekosongan Direktur Utama (Dirut) jangan sampai menjadikan kegelisahan di
kalangan pegawai Bank Sumut.
“Hal yang paling penting adalah terus berupaya untuk bekerja
secara maksimal dan mempersembahkan yang terbaik. Kalau kalian tidak maksimal,
bank kebanggan kita ini mundur, perekonomian dan kesejahteraan masyarakat kita
pun sudah pasti terkena dampak,” ucap Gubsu Edy Rahmayadi pada pertemuan yang
digelar di aula lantai 10 kantor Bank Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Senin
(11/2).
Gubsu mengatakan, Bank Sumut merupakan bank yang hebat dan
telah banyak berkontribusi untuk perekonomian dan kesejahteraan masyarakat
Sumut. “Untuk itu, kalian harus tanamkan itu rasa bangga dalam diri, karena
telah ikut menjadi bagian dari yang memberi kontribusi. Kalau SDM nya
bersemangat, mudah-mudahan tujuan kita menjadikan bank Sumut lebih maju dari
BPD (bank pembangunan daerah)lain bisa
terwujud,” ujarnya.
Untuk itu, Edy berharap seluruh pejabat dan pegawai BanK
Sumut senantiasa memupuk kebersamaan antar sesama, meningkatkan kerja sama dan
komunikasi, serta senantiasa optimis dengan masa depan Bank Sumut.
Gubsu Edy kemudian menampilkan cuplikan-cuplikan video
berisi motivasi dan semangat. Para pejabat dan pegawai Bank Sumut menyimak
paparan Gubsu dengan khidmat sekaligus santai. Sesekali riuh tawa para pegawai
Bank Sumut mewarnai aula saat menyimak paparan Gubsu yang dibawakan dengan gaya
humoris.
Sebelumnya, Komisaris Utama Bank Sumut Rizal Fahlevi
Hasibuan mengucapkan selamat datang dan mengapresiasi kedatangan Gubsu Edy ke
Kantor Bank Sumut. Menurutnya, ini merupakan bukti kepedulian dan rasa cinta
Gubsu Edy Rahmayadi serta Wagubsu Musa Rajekshah terhadap Bank Sumut.
“Tiga tahun berturut-turut ekonomi belum membaik. Namun,
kita bersyukur, untuk menghadapi ini jajaran Bank Sumut yang Bapak miliki ini
tetap survive dan kita dapatkan laba yang baik dari tahun demi tahun. Kemudian
kita mendapat penghargaan yang banyak walaupun keadaan kurang memungkinkan,”
katanya.
Rizal mengungkapkan, bahwa masih banyak BPD lain yang tidak
seberuntung Bank Sumut. Namun, hal ini bukan alasan untuk berpuas diri. Justru
menjadi dorongan untuk meningkatkan komitmen dan upgrade diri. “Insya Allah,
dengan bantuan Gubernur kedepannya kita akan bertahan dan membesarkan bank
ini,” tuturnya.
Fatmah selaku Pimpinan KCP Bank Sumut Kampung Baru mengaku
sangat tergugah dengan paparan dan motivasi Gubsu Edy. “Saya sudah bekerja
selama 20 tahun di Bank Sumut. Untuk kami orang Bank Sumut yang belum ada
Dirut, ini menjadi sebuah penyemangat baru untuk melaksanakan tugas kantor.
Kehadiran Gubernur hari ini sangat berarti untuk saya sendiri, dan Bank Sumut
dalam lingkup besarnya,” ujar Fatmah, yang sempat menitikkan air mata saat
mendengarkan kata-kata motivasi dari Gubsu Edy.
Sementara itu, diketahui, posisi Direktur Utama (Dirut) Bank
Sumut kosong, setelah Edie Rizliyanto mengundurkan diri Oktober 2018. Edie
Rizliyanto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Dirut Bank Sumut setelah
mendapat penugasan baru sebagai Direktur Utama PT Jasindo oleh Kementerian
BUMN.
Turut hadir dalam acara tersebut seluruh komisaris dan
direktur PT Bank Sumut, pemimpin divisi Bank Sumut, pemimpin cabang dan
pemimpin bidang Bank Sumut, serta seluruh pegawai Bank Sumut. ( team )
Terima Tim IPITEX Thailand SMAN 1 Matauli Pandan, Gubsu
Apresiasi dan Motivasi Tingkatkan Prestasi
MEDAN ( KBNLIPANRI ONLINE ) – Gubernur Sumatera Utara
(Gubsu) Edy Rahmayadi mengapresiasi prestasi para siswa SMAN 1 Matauli Pandan
di event International Intellectual Property, Invention, Innovation and
Technology Exposition (IPITEX) 2019 di Thailand. Para siswa juga dimotivasi
untuk terus meningkatkan prestasi di masa mendatang.
Hal itu disampaikan Gubsu Edy Rahmayadi ketika menerima
audiensi tim dari SMA Negeri 1 Matauli Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah yang
mengikuti IPITEX 2019, di ruang kerjanya Lantai 10 Kantor Gubsu Jalan Pangeran
Diponegoro Nomor 30 Medan, Jumat (8/2).
Gubsu Edy mengatakan keberhasilan bukanlah akhir dari
perjuangan. Keberhasilan merupakan awal dari kemenangan. “Apresiasi untuk
kalian anak-anaku sekalian atas keberhasilan yang kalian dapatkan. Tapi, kalau
kalian langsung puas dengan hal seperti ini itulah tanda kehancuran,” katanya.
Masa depan para siswa, kata Gubsu Edy, sangat diharapkan di
Sumut ini, oleh bangsa ini. Untuk itu jangan pernah berhenti, jangan pernah
menyerah, dengan segala bentuk gangguan, hambatan, dan tantangan yangada.
“Karena setiap keberhasilan pasti cobaan menghadang di
depan. Kalau kalian mampu menghadapi itu, kalian pasti berhasil,” ujar Gubsu
Edy.
Gubsu pada kesempatan itu juga mengharapkan agar para siswa
sebagai generasi penerus dalam melakukan sesuatu harus diiringi dengan doa.
Karena doa itu sangat penting. “Karena pintu keberhasilan itu adalah doa,” ujar
Gubsu, yang didampingi Kadis Pendidikan Provsu Arsyad Lubis.
Selain itu, katanya, seorang siswa itu harus mempunyai
cita-cita. Punya cita-cita apa yang harus diperbuat dan mau jadi apa nantinya.
“Kalau tidak punya cita-cita berarti tidak ada tujuan dalam dalam hidup,” sebut
Gubsu.
Kepala Sekolah SMA 1 Matauli Pandan Murdianto SPd MM pada
kesempatan itu menyampaikan bahwa SMAN 1 Matauli Pandan Tapanuli Tengah
menurunkan 10 tim untuk mengikuti IPITEX di Thailand. “Dari sepuluh tim ini
yang mengikuti even internasional yang diikuti 35 negara yang termasuk negara
Eropa berhasil mendapatkan 1 mendali emas dan perunggu. Dan ada juga
mendapatkan special award medali,” ujar Murdianto.
Sampai saat ini, lanjut Murdianto, baru 5 tim yang kembali
ke Sumatera Utara. “Selebihya sore ini(Jumat, 8/2) mungkin akan tiba,” sebut Murdianto.
Dikatakannya, mengikuti even seperti ini merupakan kegiatan
rutin bagi SMAN 1 Matauli Pandan. Pada tahun 2018 mengikuti kegiatan seperti
ini di Korea Selatan. “Mohon bimbingan dari Bapak Gubernur Sumatera agar SMAN 1
Matauli Pandan ini dapat melahirkan anak-anak yang berprestasi dan lebih baik lagi
kedepan,” kata Murdianto.( team )
Berikut ini akan sedikit kami uraikan tentang Pataka peninggalan Kerajaan Majapahit yang seharusnya tetap ada di negara kita sendiri.
PATAKA SANG DWIJA NAGA NARESWARA
Pataka Sang Dwija Naga Nareswara dari Kerajaan Majapahit ini berbentuk Tombak Pataka Nagari sebagai perwujudan dari Naga Kembar penjaga Tirta Amertha, terbuat dari bahan tembaga. Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT (Wilwatikta). Merupakan satu-satunya tombak pataka Singhasari yang mampu diselamatkan oleh SANGRAMA WIJAYA pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang. Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong oleh Raja Jayakatwang ke Kerajaan Gelang-gelang.
Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan di hutan Tarikh (setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan SANGRAMA WIJAYA atas Kerajaan Gelang-gelang). Bendera tersebut bernama : Gula – Kelapa (Merah – Putih), yang sekarang kita warisi menjadi Bendera Sang Saka Merah Putih.
Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART 1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Nagas and Blades Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom Date: ca. second half of the 13th century Culture: Indonesia (Java) Medium: Copper Alloy Dimensions: H.17 1/4 in. (43.8 cm); W. 9 3/4 in. ( 24.8 cm) Classification: Metalwork Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Bequest of Samuel Eilenberg, 1998 Accession Number: 2000.284.29a, b This artwork is currently on display in Gallery 247
Hal ini cukup mengherankan saya, sebab Amerika Serikat tidak mempunyai benang merah sejarah dengan bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).
Tombak Sang Dwija Naga Nareswara ini sepertinya pernah di singgung dalam prasasti tahun 1305 AD bagian II yang menjelaskan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardhana (Bhre Wijaya / pendiri kerajaan Majapahit). Dikatakan bahwa nama beliau terdiri dari 10 suku yang dapat dipecah menjadi empat kata yakni kerta, rajasa, jaya dan wardhana. Unsur kerta mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat. Unsur rajasa mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh-musuhnya. Unsur jaya mengandung arti bahwa baginda memiliki lambang kemenangan berupa senjata tombak berujung mata tiga (trisula muka) dan karena senjata tersebut segenap musuh hancur lebur. Unsur wardhana mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama, melipat gandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyatnya.
PATAKA SANG HYANG BARUNA
Pataka Kerajaan Majapahit ini bernama Sang Hyang Baruna berupa sebuah tombak (Tombak Pataka Nagari) dengan dua mata tombak kembar di atas kepala dan ekor naga, pataka ini terbuat dari bahan tembaga. Tombak Pataka ini di buat pada jaman Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT(Wilwatikta). Pataka ini biasa dipasang di atas kapal yang memimpin sebuah rombongan ekspedisi, untuk menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang bertindak mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji-panji yang dipasang bernama : “Getih – Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada militer SINGHASARI / MAJAPAHIT. Sampai saat ini bendera ini tetap dipakai oleh TNI-AL dalam kapal-kapal perangnya di perairan internasional, dengan nama panji-panji : “Ular-ular Tempur”.
Pataka ini pertama kali di bawa oleh pasukan ekspedisi PAMALAYU dan diserahkan kembali kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari. Pataka ini telah berkiprah pada “Ekspedisi PAMALAYU (Singhasari)”, “Ekspedisi Duta Besar ADITYAWARMAN ke China (Majapahit)” hal ini dilakukan dua kali, “Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit)”. Dan tetap eksis hingga saat ini, dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tombak Pataka (Sang Hyang Baruna) ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART 1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Naga and Blades Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom Date: ca. second half of the 13th century Culture: Indonesia (Java) Medium: Copper alloy Dimensions: H.17 1/2 in. (44.4 cm); Gr. W. 8 1/4 in. (21 cm) Classification: Metalwork Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1996 Accession Number: 1996.468a, b This artwork is currently on display in Gallery 247
Satu hal yang amat mengganjal di hati (sebagai masyarakat pewaris Majapahit) adalah : Mengapa Pataka Majapahit ini sampai bisa berada di Amerika Serikat yang nota bene tidak memiliki hubungan kesejarahan dengan bangsa kita ?
Bendera Getih - Getah - Samudra
SANG PELOPOR DAN PENERUS PATAKA “SANG HYANG BARUNA”
Dalam menjalankan politik NUSANTARA (penyatuan seluruh kepulauan nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit), terdapat 3 nama besar yang cukup disegani dalam pelaksanaannya.
Yang pertama adalah : ADITYAWARMAN (dengan pangkat tertingi Wredhamantri), adalah keluarga raja yang meniti kariernya di dunia militer sebagai penerus ayahandanya (keluarga Raja Singhasari) MAHESA ANABRANG yang bergelar ADWAYABRAHMA. Kedua-duanya dikenal tangguh di medan pertempuran, jago strategi dan ulet menjalankan misi diplomatik (MAHESA ANABRANG adalah pimpinan misi diplomatik ekspedisi PAMALAYU Singhasari ke Kerajaan DHARMASRAYA, jejak ini diikuti putranya : ADITYAWARMAN yang melakukan “mission imposible” dengan melakukan kunjungan diplomatik ke Kaisaran China. Padahal baru 2 dekade pasukan Tartar ini digempur dalam pertempuran tanah Jawa oleh Bhre WIJAYA, dan mereka sedang mempersiapkan gempuran balasan). Kehandalan ADITYAWARMAN sebagai duta-lah yang bisa menetralisir keadaan dan bahkan menemukan kesepahaman dalam hubungan diplomatik antar negara. Baik ayah dan anak ini ketika melakukan tugasnya : membawa Tombak Pataka SANG HYANG BARUNA.
Yang kedua dan ketiga adalah dua serangkai : Panglima Laut Rakarian Tumenggung MPU NALA dan Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA. Keduanya secara bahu-membahu menjalankan tugas penyatuan Nusantara dengan konsisten dibidangnya masing-masing. MPU NALA adalah generasi kedua panglima armada laut Kerajaan Majapahit, ayahandanya dikenal sebagai panglima laut yang memimpin rombongan pertama ekspedisi Pamalayu Singhasari menuju Kerajaan Tumasik (Singapura) di selat Malaka. Maka penunjukannya sebagai Panglima Laut di era pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI ini bersifat mutlak, mengingat banyak pelaut-pelaut yang dahulu mengabdi kepada ayahandanya telah bersumpah setia mendukung kepemimpinannya mengarungi samudra. Dikenal jago pertempuran laut dan pandai menyatukan pasukan laut yang berasal dari beberapa negara bawahan.
Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA adalah tokoh kunci dari politik penyatuan Nusantara lewat SUMPAH PALAPA-nya. Seorang militer tulen yang memulai karirnya dari bawah sebagai bekel bhayangkara dan dikenal cerdas mempelajari ilmu pemerintahan. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh politik NUSANTARA Kerajaan Singhasari Raja SRI KERTANEGARA dan hal ini cocok dengan pemikiran Rani Majapahit (TRIBHUWANA TUNGGADEWI yang juga cucu dari SRI KERTANEGARA) yang mendapat pemahaman serupa dari ibundanya : DYAH AYU GAYATRI.
Keteguhan hati sang MPU MADA dalam mencapai cita-citanya diujinya sendiri dalam berbagai medan pertempuran pada separuh masa kehidupannya. Kemampuannya yang ulet, luwes sekaligus tegas dan tangguh telah mewariskan kepada kita wilayah Negara INDONESIA Raya yang luas ini.
Dalam menjalankan ekspedisinya, kapal panglimanya selalu membawa Tombak Pataka Sang Hyang BARUNA dan mengibarkan panji-panji kebesaran Majapahit (Getih - Getah - Samudra).
Rupanya perjalanan sejarah tersebut diabadikan secara konsisten oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim INDONESIA. Panji-panji Maritim Majapahit tetap dipakai hingga saat ini, bahkan GAJAHMADA dibuatkan monumennya di Markas Komando TNI-AL Surabaya. Keduanya baik MPU NALA maupun MPU MADA, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang : KRI. NALA dan KRI. GAJAHMADA.
PATAKA SANG PADMANABA WIRANAGARI
Tombak Pataka Nagari kerajaan Majapahit yang ketiga terbuat dari bahan tembaga bernama Sang Padmanaba Wiranagari (Teratai Kemuliaan Pembela Negeri).
Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Adalah Pataka yang direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi PAMALAYU di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan kerajaan Singhasari diruntuhkan Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela negara. Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada SANGRAMA WIJAYA sempat tidak diijinkan. Karena SANGRAMA WIJAYA masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya (Raja JAYAKATWANG adalah sepupu SRI KERTANEGARA yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan SANGRAMA WIJAYA melalui kakeknya NARASINGAMURTI).
Kemudian para senopati ini nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari TRIBHUWANESWARI (yang juga putra pertama SRI KERTANEGARA dan istri SANGRAMA WIJAYA). TRIBHUNARESWARI tidak menjawab YA atau TIDAK, hanya bersabda : PENUHI DHARMAMU SEBAGAI KSATRYA. Dan ini yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi PAMALAYU merebut kembali panji pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.
Mereka akhirnya berhasil membawa pulang 5 (lima) panji Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha (yang masih bingung harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa.
Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang Lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Ada 4 (empat) kali perubahan lambang negara Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini. Pada foto diatas adalah lambang kedua yang dipakai pada masa pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI dan Raja SRI RAJASANAGARA DYAH HAYAM WURUK, dimana Majapahit mengalami masa keemasannya. Mengenai keempat Lambang Negara Majapahit dapat anda lihat pada catatan yang lain. Semua Lambang Kerajaan (keempat-empatnya) bernama : SURYA WILWATIKTA. Banyak yang menyebutnya juga sebagai SURYA MAJAPAHIT.
Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART 1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Top of a Scepter Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom Date: ca. second half of the 13th century Culture: Indonesia (Java) Medium: Copper alloy Dimensions: H. 16 1/16 in. (40.8 cm) Classification: Metalwork Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1987 Accession Number: 1987.142.184 This artwork is currently on display in Gallery 247
Hal ini cukup mengherankan saya, apa hubungan Amerika Serikat dengan sejarah bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).
SANG HYANG NAGA AMAWABHUMI
Pataka Kerajaan Majapahit ke 4 berbentuk tombak naga berbahan tembaga yang dikenal dengan sebutan Sang Hyang Naga Amawabhumi yang artinya Naga Penjaga Keadilan.
SUSUNAN PENGADILAN
Semua keputusan dalam pengadilan di ambil atas nama Raja yang disebut Sang Amawabhumi yang artinya : orang yang mempunyai atau menguasai negara. Dalam Mukadimah Kutara Manawa (Undang-Undang jaman Majapahit) ditegaskan demikian : Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menetapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah. Jangan sampai orang yang bertingkah salah, luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya.
Dalam soal pengadilan Raja dibantu oleh dua orang dharmadhyaksa, yaitu Dharmadhyaksa Kasaiwan (kepala agama Siwa) dan Dharmadhyaksa Kasogatan (kepala agama Budha) dengan sebutan Dang Acarya. Karena kedua agama tersebut merupakan agama utama dalam Kerajaan Majapahit, maka segala perundang-undangan didasarkan kepada kedua agama tersebut.
Kedudukan Dharmadhyaksa dapat disamakan dengan Hakim Tinggi, mereka itu dibantu oleh lima orang upapatti yang artinya pembantu dharmadhyaksa. Mereka tersebut dalam beberapa piagam atau prasasti biasa disebut dengan sang pamegat atau disingkat samgat artinya sang pemutus alias hakim. Baik Dharmadhyaksa maupun Upapatti bergelar Dang Acarya. Pada mulanya terdapat lima Sang Pamegat yaitu Sang Pamegat Tirwan, Sang Pamegat Kandamuhi, Sang Pamegat Manghuri, Sang Pamegat Jambi dan Sang Pamegat Pamotan, kelimanya termasuk golongan Kasaiwan.
Pada masa pemerintahan Dyah Hayamwuruk, ditambah dengan dua orang upapatti dari golongan Kasogatan yaitu Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare, sehingga keseluruhan pejabat pengadilan ada dua orang dharmadhyaksa dan tujuh orang upapatti.
Demikian uraian kami tentang empat pataka Kerajaan Majapahit.
Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah
berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase
kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan
Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na
opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau
(marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase
kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik),
Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga
Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan
Silimakuta (marga Purba Girsang). Demikian pula halnya dalam mengurai asal
muasal masyarakat Simalungun, yang banyak berpijak dan tergantung pada aspek
diaspora masyarakat Batak (Toba) sehingga, raja dan kerajaan di Simalungun itu
dinyatakan berasal dari Batak (Toba).
Padahal, secara struktur dan organisasi sosial, terdapat
perbedaan yang sangat jelas antara kedua suku Batak tersebut, sehingga tidak
dengan begitu saja menarik kesimpulan bahwa suku Simalungun merupakan diaspora
Batak Toba yang sukses di perantauan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh
para penulis seperti JV. Vergouwen, Washinton Hutagalung, JR. Hutauruk, Batara
Sangti maupun MO. Parlindungan yang kontroversial itu. Yang sangat mengesankan,
jika bukan ironis adalah bahwa penulis Simalungun banyak pula yang mengutip
pendapat tersebut sebagai sebuah fakta kebenaran tanpa melakukan penggalian
lebih lanjut seperti yang dilakukan oleh TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah
Simalungun maupun oleh MD. Purba dalam berbagai bukunya yang diterbitkan untuk
kalangan sendiri. Akibatnya, sejarah kebudayaan Simalungun menjadi rapuh dan
tidak dapat berdiri sendiri.
Simalungan Dalam Literatur
Dalam masyarakat Simalungun tidak terdapat begitu banyak
literatur (pustaha) yang mengisahkan tentang riwayat kerajaan tersebut sehingga
mengalami kesulitan dalam rekonstruksinya kemudian. Hanya saja, berdasarkan
sejarah lisan yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya bahwa setidaknya tiga
fase yang disebutkan di atas pernah hidup, berkuasa dan memerintah. Sejarah
lisan tersebut, agaknya menjadi pedoman bagi bangsa Eropa seperti Tideman
(1922) untuk mengurai Simalungun dalam laporannya sebagai penguasa pada saat
itu dan juga bagi penulis Simalungun berikutnya.
Oleh karenanya, masing-masing penulis sejarah di Simalungun
membuat rekonstruksi sendiri atas kemauan sendiri dan kepentingan sendiri tanpa
terikat waktu, tempat dan ruang. Akibatnya, sejarah tersebut sulit diterima
secara umum dan apalagi dipergunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan
demi kepentingan akademik ilmiah berikutnya.
Jika kemudian terdapat literatur yang mengetengahkan tentang
kebudayaan Simalungun, yakni sejarah dan perkembangannya, maka hampir dapat
dipastikan bahwa tulisan itu banyak mengadopsi pendapat-pendapat yang banyak
ditulis oleh non Simalungun, dan tulisan itu pula banyak bersinggungan dengan
pengaruh Agama Kristen yang dilakukan oleh rohaniawan Kristen Simalungun.
Literatur dari masa lampau Simalungun yang masih ada hingga
saat ini seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (Hikayat Nagur), Partikkian Bandar
Hanopan (Hikayat Silau), Partikian Panai Bolah (hikayat Panai) serta beberapa
literatur yang disusun kembali serta ditransliterasi latin oleh JE. Saragih
dalam pustaha lak-lak. Menurut Marim Purba, jumlah keseluruhan literatur yang
membahas Simalungun, baik dari segi sejarah masa lampau dan masa kini, baik
yang ada di luar negeri (Belanda) maupun di Museum Simalungun tak lebih dari
150 judul. Kesulitan lain dari beberapa pustaha tersebut adalah tidak memiliki
angka tarikh (tahun) sehingga mengalami kegagalan dalam rekonstruksi kronologis
kesejarahannya. Kenyataan ini sangat menyulitkan dalam rekonstruksi sejarah
kebudayaan Simalungun berikutnya seperti yang banyak diakui oleh para penulis
Simalungun masa kini. Oleh karena itu, diperlukan penggalian mendalam serta
penelusuran secara herastik sehingga pelurusan sejarah tersebut dapat dilakukan
kembali.
Leluhur Simalungun
Dalam sejarah masyarakat Batak (Toba) seperti yang telah
banyak diketahui bahwa masyarakat Batak (Toba) adalah keturunan Siraja Batak
yang beranak cucu kemudian menyebar ke berbagai penjuru di Sumatera Utara
seperti Mandailing Angkola, Pak-pak Dairi, Karo, Simalungun dan Toba serta
Nias. Belakangan, Nias menyatakan bahwa mereka bukan keturunan dari Siraja
Batak berdasarkan perbedaan fisik dan budaya lainnya. Dengan begitu, ke lima
sub etnik itu adalah merupakan diaspora dari Batak (Toba) yang menyebar ke
berbagai wilayah di kawasan itu. Keadaan lain adalah adanya klaim, penarikan
garis keturunan (genealogis) berdasarkan marga (clan) yang mengacu pada klan
Batak (Toba) dimana semua klan yang ada pada sub etnik Batak tersebut
seolah-olah memiliki kemiripan dan kesamaan.
Dalam penguraian sejarah moety masyarakat Batak seperti yang
dilakukan oleh BA Simanjuntak dipaparkan bahwa leluhur nusantara (juga Batak)
berasal dari dataran tinggi Yunan dekat hulu Sungai Mekong di Cotte dan Napur
Hindia Belakang. Kemudian dengan alasan tertentu melakukan migrasi ke berbagai
wilayah dan sebagian di antaranya tiba di wilayah nusantara yang menghuni
wilayah pantai. Gelombang yang pertama memasuki wilayah nusantara (sebahagian
tiba di Sumatera Utara) ini disebut dengan Protomelayu (Melayu dalam).
Selanjutnya, dalam rentang waktu tertentu, gelombang migrasi serupa juga
terjadi yang disebut dengan Deutromelayu (Melayu luar). Gelombang yang kedua
serta memiliki peradaban yang lebih tinggi ini, kemudian mendesak protomelayu
ke pedalaman.
Secara signifikan, dapat ditarik korelasi dimana gelombang
yang pertama masuk itu pastilah berdiam di Selat Malaka, kemudian mereka
terdepak ke daerah pedalaman oleh gelombang migrasi berikutnya hingga ke kawasan
Simalungun. Dengan begitu, gelombang yang masuk ke Simalungun pun dapat
dinyatakan mengalami dua gelombang, yakni gelombang proto Simalungun dan deutro
Simalungun sampai pada akhirnya terbentuk neo Simalungun pasca revolusi
berdarah 1946. Dengan begitu, kondisi ini lebih memungkinkan dan hampir
mendekati kebenaran sejalan dengan sejarah penyebaran ras-ras umat manusia.
Sejalan dengan itu, sesuai dengan pendapat Uli Kozok (1992)
(Profesor Filologi berkebangsaan Belanda) yang mengurangi bahwa di antara bahasa-bahasa
Batak, bahasa Simalungun adalah bahasa yang lebih dulu terbentuk, maka asumsi
ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk merekonstruksi kembali sejarah
Simalungun. Bahasa Simalungun lebih dekat dengan Bahasa Mandailing, dan lebih
jauh jika dibanding dengan Bahasa Batak Toba, Karo ataupun Pak-pak. Itu berarti
bahwa, kemungkinan suku bangsa Simalungun adalah suku yang pertama ada
dibanding suku Batak lainnya. Kendati demikian, penggalian serta penelusuran
yang lebih mendalam tentang hal ini senantiasa dilakukan sebagai upaya
pelurusan sejarah, khususnya pada masyarakat kebudayaan Simalungun.
Monarki Simalungun
Dalam literatur Simalungun (pustaha laklak) seperti Pustaha
Parpadanan Na Bolak (pustaka tertua di Simalungun) yang mengisahkan hikayat
kerajaan Nagur (kerajaan Tertua di Simalungun dinasti Damanik) dikisahkan bahwa
sewaktu raja Nagur yakni Sormaliat ingin memiliki istri sekaligus sebagai puang
bolon (permaisuri) dari putri pamannya (marboru tulang) yang ada di Negeri
Padang Rapuhan. Untuk rencana ini, raja memerintahkan utusannya berangkat
menuju negeri yang dituju untuk memberitahukan rencana tersebut.
Untuk sampai di negeri tujuan, dibutuhkan perjalanan selama
tiga (bulan) dengan berjalan kaki. Berarti, dibutuhkan waktu selama enam bulan
untuk kembali ke tempat semula yakni di negeri Hararasan (Kerasaan sekarang)
tempat Kerajaan Nagur berdiri.
Dengan estimasi dan kalkulasi tertentu, maka kemungkinan
negeri yang dituju adalah Mataram Lama (Medang Faihbhumi). Kejadian itu
diperkirakan berlangsung sekitar tahun 550 M bersamaan dengan kejayaan kerajaan
Mataram Lama pada waktu itu. Hal ini tentu saja sangat beralasan dimana
terdapat kesamaan struktur kerajaan yang sama seperti di Jawa. Di Sumatera hal
sedemikian tidak diketemukan dan apalagi di Sumatera Utara. Jika seandainya
Padang Rapuhan yang dimaksud dalam hikayat itu adalah negeri Padang (Tebing
Tinggi), maka perjalanan yang dibutuhkan tentulah tidak selama itu. Lagi pula,
kota Tebing Tinggi tersebut yang dibuka oleh keturunan klan Saragih berkisar
tahun 1200-an.
Jadi, berdasarkan penuturan yang terdapat pada hikayat
Parpadanan na Bolak tersebut dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi
(kerajaan) di Simalungun tersebut telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di
Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi
penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini
terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi
pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti
pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga
telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan
Catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa
hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ternak ayam.
Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah
mengambil corak modern seperti layaknya sebuah negara yang memiliki
perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain
seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing Angkola sungguhpun mereka
itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah
lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai
dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Kendatipun pada
akhirnya, kerajaan itu hancur dan lebur akibat peristiwa berdarah di Sumatera
Timur yang lebih dikenal dengan peristiwa revolusi sosial, dimana pada saat
itu, golongan bangsawan dikejar dan dibunuh serta pembakaran istana sebagai
dampak economic lag yang terjadi antar kelas.
Keadaan seperti ini bukan semata-mata bertujuan untuk
memutus mata rantai integritas serta harmoni kesukuan tetapi yang lebih
dipentingkan adalah bagaimana sejarah itu dapat ditegakkan. Karena dari sanalah
kita dapat mencapai fakta dan kebenaran sejarah sehingga tidak terjadi
pengebirian sejarah di kemudian hari. ( team )