perubahab break

Breaking News:
Loading...

coba3

contoh12

coba3

KIRIM1

Master

Beli sekarang dengan PayPal

TVLIPANRI

Daftar isi

Sosialisasi Pemilu Serentak Warnai CFD


Sosialisasi Pemilu Serentak Warnai CFD


Medan ( KBNLIPANRI ONLINE )

Car Free Day yang berlangsung setiap minggu di seputaran Lapangan Merdeka Medan, semakin menarik minat masyarakat Kota Medan untuk berolahraga. Terbukti, masyarakat yang melakukan olahraga secara massal semakin banyak. Program yang digelar Pemko Medan ini telah berhasil membudayakan berolahraga bagi masyarakat serta menciptakan lingkungan yang sehat, bersih dan asri pada setiap minggunya.


Sejak pukul 06.00 WIB, warga telah berdatangan ke Lapangan Merdeka. Mereka berolah raga dengan berlari dan berjalan di dalam maupun di luar Lapangan Merdeka.

Selain berlari, berjalan santai, bermain badminton, banyak sekali warga yang antusias mengikuti senam jantung sehat yang digelar Pemko Medan bekerjasama dengan Yayasan Jantung Indonesia Cabang Utama Sumut.

Car Free Day atau biasa disingkat CFD, kerap pula menjadi ajang bagi instansi pemerintah maupun swasta dan organisasi masyarakat untuk melaksanakan kegiatan diantaranya penyuluhan maupun sosialisasi seperti yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU)) Kota Medan, yang memanfaatkan  momentum CFD untuk mensosialisasikan pemilu serentak dan Penyuluhan Bahaya Narkoba yang dilaksanakan oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Minggu (17/2) di Lapangan Merdeka, Medan.

Wakil Wali Kota Medan, Ir. H. Akhyar Nasution, M.Si. yang tampak  ikut berolah raga sembari menyapa dan mengingatkan warga yang berokah raga untuk menjaga kebersihan Lapangan Merdeka, juga turut menghadiri sosialisasi Pemilu Serentak yang digelar KPU Medan bersama Relawan Demokrasi (Relasi).

Dalam sosialisasi ini, warga juga mendapat informasi soal Pemilu Serentak.  Masyarakat tampak sangat antusias dengan sosialisasi yang dilakukan. Keingintahuan warga yang sangat tinggi terkait informasi kepemiluan dirasakan langsung saat KPU Kota Medan dan Relasi menyebarkan brosur sosialisasi dan membuka stand cek daftar pemilih.

“Kami merasakan bagaimana masyarakat sangat antusias dengan informasi dan sosialisasi tentang Pemilu Serentak 17 April 2019 yang saat ini dilakukan. Lihat saja warga berkerumun untuk mendapatkan selebaran dan brosur sosialisasi,” kata Ketua KPU Kota Medan Agussyah Ramadani Damanik didampingi komisioner lainnya Edy Suhartono, Nana Miranti, M. Rinaldi Khair dan Sekretaris KPU Medan Nirwan di Lapangan Merdeka Medan.

Target sosialisasi kali ini adalah untuk memastikan masyarakat mengetahui ada lima jenis surat suara yang akan dicoblos pada hari pemungutan suara yakni calon presiden dan wakil presiden, calon DPD RI, calon DPR RI, calon DPRD Provinsi dan calon DPRD Kabupaten/Kota. Setelah itu memastikan bahwa warga yang mengunjungi stand KPU Kota Medan sudah terdaftar dengan memeriksanya melalui aplikasi online KPU RI Pemilu 2019.

Usai menghadiri sosialisasi, Wakil Wali Kota tidak lupa untuk  terus mengingatkan kepada warga Medan agar menggunakan hak suaranya pada Pemilu April  mendatang. Karena menurut Wakil Wali Kota, demokrasi tidak akan berjalan jika rakyatnya tidak mau atau tidak peduli dengan Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif.

“Keterlibatan masyarakat dalam politik sekurang-kurangnya adalah  dengan pergi ke TPS dan menggunakan hak suaranya dengan benar. Hal  ini harus terus kita sosialisasikan hingga  masyarakat menyadari bahwa setiap individu di negara ini memiliki hak dan tanggungjawab atas kemajuan negaranya”, ujar Akhyar.

Selain mengingatkan warga untuk menggunakan hak pilihnya, Akhyar juga menyampaikan untuk terus menjaga persatuan dan rasa persaudaraan diantara warga Medan.  Perbedaan pilihan itu hal yang biasa, tambah Akhyar, tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk terpecahbelah.

“Perbedaan pilihan harus disikapi dengan kejernihan pikiran. Bahwa setiap manusia memiliki pemikiran dan analisis sendiri dalam memilih pemimpin nanti. Itu harus sama-sama kita hargai sebagai manusia demokrasi yang dewasa. Jangan langsung percaya dan termakan berita hoax apalagi menyebarkan berita hoax dan akhirnya memperkeruh suasana,” ungkap Akhyar yang juga didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Marah Husin.(team)

Dampingi Mensos Serahkan Bansos, Wagubsu Harapkan Program Terlaksana Berkelanjutan


Dampingi Mensos Serahkan Bansos, Wagubsu Harapkan Program Terlaksana Berkelanjutan


MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE) – Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Musa Rajekshah berharap penyerahan bantuan sosial (Bansos) berupa paket bahan pokok kepada 1000  kepala keluarga (KK) masyarakat kurang mampu di Kota Medan akan terus terlaksana secara berkelanjutan. Begitupun dengan jumlah penerima, diharapkan akan bertambah banyak dari jumlah penerima saat ini.



Harapan ini disampaikan Wagubsu kepada Menteri Sosial (Mensos) RI Agus Gumiwang Kartasasmita saat mengawali acara Penyerahan Bansos Sembako kepada 1000 Kepala Keluarga Masyarakat Kurang Mampu Kota Medan, Kamis (14/2), di Lapangan Benteng Jalan Pengadilan, Medan Petisah.



“Kami selaku pemerintah daerah tentunya sangat berterima kasih, khususnya kepada Bapak Menteri yang sudah datang berkunjung hari ini dan menyerahkan bantuan kepada masyarakat kita yang kurang mampu. Semoga, akan ada program lanjutan berikutnya dengan jumlah penerima yang lebih besar,” ucap Wagubsu Musa yang juga akrab disapa dengan Ijeck.



Selain penyerahan Bansos, Ijeck kemudian juga memberi saran agar ada program-program yang bersifat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Sehingga masyarakat penerima dibekali dengan kemampuan-kemampuan yang menunjang kehidupannya sehari-hari.



“Kita melalui Dinas Sosial sedang mempersiapkan ini, dan mudah-mudahan pertemuan dengan Bapak Menteri hari ini akan berlanjut dengan koordinasi-koordinasi berikutnya, dimana kita yang di daerah ini akan jemput bola agar lebih banyak lagi program-program Kementerian, khususnya Kemensos, yang terlaksana di Sumut ini,” tutur Ijeck.



Sementara itu, Mensos RI Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa dirinya setuju dengan usulan dan harapan yang telah disampaikan Wagubsu untuk memperbanyak program serupa dengan jumlah penerima yang lebih banyak. “Kami tentunya pemerintah pusat sangat mendukung inisiatif-inisiatif dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam meningkatkan kualitas hidup warga masing-masing. Selama komunikasi dan koordinasi kita semua lancar, program-program serupa seperti ini bisa kita laksanakan lebih sering bersama-sama,” katanya.



Selain penyerahan Bansos, kata Agus, telah banyak pula program-program Kemensos sebelumnya yang telah terlaksana dalam upaya untuk menekan angka kemiskinan dan menyejahterakan kehidupan masyarakat. Diantaranya seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Pelayanan Sosial Lanjut Usia, dan lainnya.



Walikota Medan Dzulmi Eldin berharap agar bantuan yang diterima 1000 KK masyarakat kurang mampu bisa meringankan belanja kebutuhan bahan pokok warga. Eldin menyampaikan bahwa saat ini masih ada sekitar 129.613 keluarga miskin di Kota Medan, 65.342 telah menjadi keluarga penerima manfaat (KPM) dari program Kemensos. “1000 keluarga hari ini, kita pilih yang belum menerima bansos sebelumnya dan akan kita upayakan agar lebih banyak KPM berikutnya, sehingga berkurang masyarakat miskin di Kota Medan,” jelasnya.



Badmani (33), seorang ibu orang tua tunggal bagi 3 anak menjadi salah satu penerima Bansos dari Kemensos. Warga Medan Polonia ini sehari-harinya hanya bekerja sebagai loper koran. Dirinya mengaku bersyukur memperoleh Bansos. “Membantu sekali lah pastinya, semoga program seperti ini terus berlanjut. Tetapi kedepannya semoga jangan bantuan saja, ada pelatihan atau bantuan modal, sehingga bisa terus-menerus kita pakai keahlian atau modal itu untuk bekerja dan menghasilkan uang sendiri, mandiri lah istilahnya,” ujar Badmani.



Secara simbolis Bansos diserahkan kepada 10 perwakilan warga secara langsung oleh Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita didampingi Wagubsu Musa Rejakshah serta Walikota Medan Dzulmi Eldin. Turut hadir dalam acara tersebut anggota DPR RI Meutya Hafid, pejabat dan staf Kemensos RI, Forkopimda Provsu dan Kota Medan, OPD Pemprovsu dan Kota Medan, serta masyarakat penerima Bansos.( team )

Kampanyekan Kesehatan Ibu Anak


Kampanyekan Kesehatan Ibu Anak, Ketua TP PKK Provsu Ajak Semua Elemen Bersinergi


MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE ) - Sebagai salah satu upaya mengampanyekan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Sumatera Utara (Sumut), Ketua Tim Pengerak (TP) Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Sumatera Utara (Provsu) Nawal Lubis Edy Rahmayadi mengajak semua elemen, khususnya PKK di kabupaten/kota untuk saling bersinergi.


 
Demikian dikatakan Nawal Lubis usai hadir pada Workshop Kampanye Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir untuk Mendukung Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI)  dan Angka Kematian Neonatal (AKN) di Sumut yang digelar USAID-Jalin di Hotel Adi Mulia Medan, Selasa (12/2).



Dalam kesempatan itu, Nawal juga hadir bersama Wakil Ketua TP PKK Provsu Sri Ayu Mihari Musa Rajekshah. Ia menyebutkan bahwa program USAID-Jalin tersebut sangat bagus dan layak didukung. "Untuk semua ibu-ibu PKK mari kita bersinergi untuk ikut berpartisipasi menurunkan angka kematian ibu dan anak baru lahir ini," ucapnya.



Menurutnya, walaupun sebelumnya program ini telah dilaksanakan dan belum berhasil, pihaknya meminta agar seluruh pihak tetap berkomitmen melaksanakan program tersebut.



Dalam workshop itu sendiri turut dihadiri beberapa elemen yang berkaitan langsung untuk mengampanyekan kesehatan ibu dan anak baru lahir. Beberapa elemen yang menjadi peserta yakni para jurnalis media cetak dan elektronik, ibu-ibu PKK, Diskominfo, tokoh agama di Sumut dan lain sebagainya.



Dalam workshop itu mereka dibagi dalam kedua kelompok untuk mencari isu-isu apa saja yang berkaitan dengan pengampanyean kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Sumut, kemudian siapa saja yang layak terlibat dan sarana apa yang layak digunakan untuk proses kampanye tersebut.



Konsultan USAID-Jalin, dr Fatmi Sulani mengatakan, dari workshop tersebut diharapkan, masyarakat dapat mangetahui perannya dan ibu dapat mengetahui haknya. "Media mulai dari sekarang juga bisa melihat mana suami-suami yang gendong anak, difoto dan disiarkan. Karena tidak ada satu pun suami yang menghadiri kelas hamil. Kemudian soal kampanye pernikahan dini, bahaya pernikahan dini dan lain sebagainnya," sebutnya.



Sementara Communications Specialist USAID-Jalin, Chatrine Siswoyo berharap peran dari Forum Media Peduli Kesehatan Ibu dan Anak  untuk terus menerus mengampanyekan soal kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Sumut. "Karena ini bukan hanya tugas dari bidang kesehatan saja, melainkan tugas dari kita semua untuk ikut mengampanyekan, termasuk media. Semoga dari forum ini ada langkah-langkah yang kita buat dan solusi yang ditawarkan kepada masyarakat di Sumut," ucapnya. ( team )



Motivasi Pejabat dan Pegawai Bank Sumut


Gubsu Motivasi Pejabat dan Pegawai Bank Sumut, Kekosongan Dirut Jangan Menjadikan Kegelisahan dan Kemunduran


MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE ) – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi memberi motivasi para pejabat dan pegawai Bank Sumut dalam rangka penguatan internal. Salah satu pesan penting yang disampaikan, agar kekosongan Direktur Utama (Dirut) jangan sampai menjadikan kegelisahan di kalangan pegawai Bank Sumut.



“Hal yang paling penting adalah terus berupaya untuk bekerja secara maksimal dan mempersembahkan yang terbaik. Kalau kalian tidak maksimal, bank kebanggan kita ini mundur, perekonomian dan kesejahteraan masyarakat kita pun sudah pasti terkena dampak,” ucap Gubsu Edy Rahmayadi pada pertemuan yang digelar di aula lantai 10 kantor Bank Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Senin (11/2).  



Gubsu mengatakan, Bank Sumut merupakan bank yang hebat dan telah banyak berkontribusi untuk perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sumut. “Untuk itu, kalian harus tanamkan itu rasa bangga dalam diri, karena telah ikut menjadi bagian dari yang memberi kontribusi. Kalau SDM nya bersemangat, mudah-mudahan tujuan kita menjadikan bank Sumut lebih maju dari BPD (bank pembangunan daerah)  lain bisa terwujud,” ujarnya.



Untuk itu, Edy berharap seluruh pejabat dan pegawai BanK Sumut senantiasa memupuk kebersamaan antar sesama, meningkatkan kerja sama dan komunikasi, serta senantiasa optimis dengan masa depan Bank Sumut.



Gubsu Edy kemudian menampilkan cuplikan-cuplikan video berisi motivasi dan semangat. Para pejabat dan pegawai Bank Sumut menyimak paparan Gubsu dengan khidmat sekaligus santai. Sesekali riuh tawa para pegawai Bank Sumut mewarnai aula saat menyimak paparan Gubsu yang dibawakan dengan gaya humoris.



Sebelumnya, Komisaris Utama Bank Sumut Rizal Fahlevi Hasibuan mengucapkan selamat datang dan mengapresiasi kedatangan Gubsu Edy ke Kantor Bank Sumut. Menurutnya, ini merupakan bukti kepedulian dan rasa cinta Gubsu Edy Rahmayadi serta Wagubsu Musa Rajekshah terhadap Bank Sumut.



“Tiga tahun berturut-turut ekonomi belum membaik. Namun, kita bersyukur, untuk menghadapi ini jajaran Bank Sumut yang Bapak miliki ini tetap survive dan kita dapatkan laba yang baik dari tahun demi tahun. Kemudian kita mendapat penghargaan yang banyak walaupun keadaan kurang memungkinkan,” katanya.



Rizal mengungkapkan, bahwa masih banyak BPD lain yang tidak seberuntung Bank Sumut. Namun, hal ini bukan alasan untuk berpuas diri. Justru menjadi dorongan untuk meningkatkan komitmen dan upgrade diri. “Insya Allah, dengan bantuan Gubernur kedepannya kita akan bertahan dan membesarkan bank ini,” tuturnya.



Fatmah selaku Pimpinan KCP Bank Sumut Kampung Baru mengaku sangat tergugah dengan paparan dan motivasi Gubsu Edy. “Saya sudah bekerja selama 20 tahun di Bank Sumut. Untuk kami orang Bank Sumut yang belum ada Dirut, ini menjadi sebuah penyemangat baru untuk melaksanakan tugas kantor. Kehadiran Gubernur hari ini sangat berarti untuk saya sendiri, dan Bank Sumut dalam lingkup besarnya,” ujar Fatmah, yang sempat menitikkan air mata saat mendengarkan kata-kata motivasi dari Gubsu Edy.



Sementara itu, diketahui, posisi Direktur Utama (Dirut) Bank Sumut kosong, setelah Edie Rizliyanto mengundurkan diri Oktober 2018. Edie Rizliyanto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Dirut Bank Sumut setelah mendapat penugasan baru sebagai Direktur Utama PT Jasindo oleh Kementerian BUMN.



Turut hadir dalam acara tersebut seluruh komisaris dan direktur PT Bank Sumut, pemimpin divisi Bank Sumut, pemimpin cabang dan pemimpin bidang Bank Sumut, serta seluruh pegawai Bank Sumut. ( team )


Tim IPITEX Thailand SMAN 1 Matauli Pandan


Terima Tim IPITEX Thailand SMAN 1 Matauli Pandan, Gubsu Apresiasi dan Motivasi Tingkatkan Prestasi
  

MEDAN ( KBNLIPANRI ONLINE ) – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi mengapresiasi prestasi para siswa SMAN 1 Matauli Pandan di event International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEX) 2019 di Thailand. Para siswa juga dimotivasi untuk terus meningkatkan prestasi di masa mendatang.



Hal itu disampaikan Gubsu Edy Rahmayadi ketika menerima audiensi tim dari SMA Negeri 1 Matauli Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah yang mengikuti IPITEX 2019, di ruang kerjanya Lantai 10 Kantor Gubsu Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Jumat (8/2).
 


Gubsu Edy mengatakan keberhasilan bukanlah akhir dari perjuangan. Keberhasilan merupakan awal dari kemenangan. “Apresiasi untuk kalian anak-anaku sekalian atas keberhasilan yang kalian dapatkan. Tapi, kalau kalian langsung puas dengan hal seperti ini itulah tanda kehancuran,” katanya.



Masa depan para siswa, kata Gubsu Edy, sangat diharapkan di Sumut ini, oleh bangsa ini. Untuk itu jangan pernah berhenti, jangan pernah menyerah, dengan segala bentuk gangguan, hambatan, dan tantangan yang  ada.



“Karena setiap keberhasilan pasti cobaan menghadang di depan. Kalau kalian mampu menghadapi itu, kalian pasti berhasil,” ujar Gubsu Edy.



Gubsu pada kesempatan itu juga mengharapkan agar para siswa sebagai generasi penerus dalam melakukan sesuatu harus diiringi dengan doa. Karena doa itu sangat penting. “Karena pintu keberhasilan itu adalah doa,” ujar Gubsu, yang didampingi Kadis Pendidikan Provsu Arsyad Lubis.



Selain itu, katanya, seorang siswa itu harus mempunyai cita-cita. Punya cita-cita apa yang harus diperbuat dan mau jadi apa nantinya. “Kalau tidak punya cita-cita berarti tidak ada tujuan dalam dalam hidup,” sebut Gubsu.



Kepala Sekolah SMA 1 Matauli Pandan Murdianto SPd MM pada kesempatan itu menyampaikan bahwa SMAN 1 Matauli Pandan Tapanuli Tengah menurunkan 10 tim untuk mengikuti IPITEX di Thailand. “Dari sepuluh tim ini yang mengikuti even internasional yang diikuti 35 negara yang termasuk negara Eropa berhasil mendapatkan 1 mendali emas dan perunggu. Dan ada juga mendapatkan special award medali,” ujar Murdianto.



Sampai saat ini, lanjut Murdianto, baru 5 tim yang kembali ke Sumatera Utara. “Selebihya sore ini  (Jumat, 8/2) mungkin akan tiba,” sebut Murdianto.



Dikatakannya, mengikuti even seperti ini merupakan kegiatan rutin bagi SMAN 1 Matauli Pandan. Pada tahun 2018 mengikuti kegiatan seperti ini di Korea Selatan. “Mohon bimbingan dari Bapak Gubernur Sumatera agar SMAN 1 Matauli Pandan ini dapat melahirkan anak-anak yang berprestasi dan lebih baik lagi kedepan,” kata Murdianto.( team )

LAMBANG KERAJAAN SANIANGNAGA KERAJAAN MAJAPAHIT

Berikut ini akan sedikit kami uraikan tentang Pataka peninggalan Kerajaan Majapahit yang seharusnya tetap ada di negara kita sendiri.

PATAKA SANG DWIJA NAGA NARESWARA

Info MajapahitPataka Sang Dwija Naga Nareswara dari Kerajaan Majapahit ini berbentuk Tombak Pataka Nagari sebagai perwujudan dari Naga Kembar penjaga Tirta Amertha, terbuat dari bahan tembaga. Tombak  Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT (Wilwatikta). Merupakan satu-satunya tombak pataka Singhasari yang mampu diselamatkan oleh SANGRAMA WIJAYA pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang. Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong oleh Raja Jayakatwang ke Kerajaan Gelang-gelang.
Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan di hutan Tarikh (setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan SANGRAMA WIJAYA atas Kerajaan Gelang-gelang). Bendera tersebut bernama : Gula – Kelapa (Merah – Putih), yang sekarang kita warisi menjadi Bendera Sang Saka Merah Putih.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :

Halberd Head with Nagas and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper Alloy
Dimensions: H.17 1/4 in. (43.8 cm); W. 9 3/4 in. ( 24.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Bequest of Samuel Eilenberg, 1998
Accession Number: 2000.284.29a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Hal ini cukup mengherankan saya, sebab Amerika Serikat tidak mempunyai benang merah sejarah dengan bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).

Tombak Sang Dwija Naga Nareswara ini sepertinya pernah di singgung dalam prasasti tahun 1305 AD bagian II  yang menjelaskan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardhana (Bhre Wijaya / pendiri kerajaan Majapahit). Dikatakan bahwa nama beliau terdiri dari 10 suku yang dapat dipecah menjadi empat kata yakni kerta, rajasa, jaya dan wardhana. Unsur kerta mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat. Unsur rajasa mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh-musuhnya. Unsur jaya mengandung arti bahwa baginda memiliki lambang kemenangan berupa senjata tombak berujung mata tiga (trisula muka) dan karena senjata tersebut segenap musuh hancur lebur. Unsur wardhana mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama, melipat gandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyatnya. 


PATAKA SANG HYANG BARUNA

Info MajapahitPataka Kerajaan Majapahit ini bernama Sang Hyang Baruna berupa sebuah tombak (Tombak Pataka Nagari) dengan dua mata tombak kembar di atas kepala dan ekor naga, pataka ini terbuat dari bahan tembaga. Tombak Pataka ini di buat pada jaman Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT(Wilwatikta). Pataka ini biasa dipasang di atas kapal yang memimpin sebuah rombongan ekspedisi, untuk menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang bertindak mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji-panji yang dipasang bernama : “Getih – Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada militer SINGHASARI / MAJAPAHIT. Sampai saat ini bendera ini tetap dipakai oleh TNI-AL dalam kapal-kapal perangnya di perairan internasional, dengan nama panji-panji : “Ular-ular Tempur”.

Pataka ini pertama kali di bawa oleh pasukan ekspedisi PAMALAYU dan diserahkan kembali kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari. Pataka ini telah berkiprah pada “Ekspedisi PAMALAYU (Singhasari)”, “Ekspedisi Duta Besar ADITYAWARMAN ke China (Majapahit)” hal ini dilakukan dua kali, “Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit)”. Dan tetap eksis hingga saat ini, dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Tombak Pataka (Sang Hyang Baruna) ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA


Dengan data museum sebagai berikut :

Halberd Head with Naga and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H.17 1/2 in. (44.4 cm); Gr. W. 8 1/4 in. (21 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1996
Accession Number: 1996.468a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247


Satu hal yang amat mengganjal di hati (sebagai masyarakat pewaris Majapahit) adalah : Mengapa Pataka Majapahit ini sampai bisa berada di Amerika Serikat yang nota bene tidak memiliki hubungan kesejarahan dengan bangsa kita ?

Bendera Getih - Getah - Samudra

SANG PELOPOR DAN PENERUS PATAKA “SANG HYANG BARUNA”
Dalam menjalankan politik NUSANTARA (penyatuan seluruh kepulauan nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit), terdapat 3 nama besar yang cukup disegani dalam pelaksanaannya.

Yang pertama adalah : ADITYAWARMAN (dengan pangkat tertingi Wredhamantri), adalah keluarga raja yang meniti kariernya di dunia militer sebagai penerus ayahandanya (keluarga Raja Singhasari) MAHESA ANABRANG yang bergelar ADWAYABRAHMA. Kedua-duanya dikenal tangguh di medan pertempuran, jago strategi dan ulet menjalankan misi diplomatik (MAHESA ANABRANG adalah pimpinan misi diplomatik ekspedisi PAMALAYU Singhasari ke Kerajaan DHARMASRAYA, jejak ini diikuti putranya : ADITYAWARMAN yang melakukan “mission imposible” dengan melakukan kunjungan diplomatik ke Kaisaran China. Padahal baru 2 dekade pasukan Tartar ini digempur dalam pertempuran tanah Jawa oleh Bhre WIJAYA, dan mereka sedang mempersiapkan gempuran balasan). Kehandalan ADITYAWARMAN sebagai duta-lah yang bisa menetralisir keadaan dan bahkan menemukan kesepahaman dalam hubungan diplomatik antar negara. Baik ayah dan anak ini ketika melakukan tugasnya : membawa Tombak Pataka SANG HYANG BARUNA.

Yang kedua dan ketiga adalah dua serangkai : Panglima Laut Rakarian Tumenggung MPU NALA dan Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA. Keduanya secara bahu-membahu menjalankan tugas penyatuan Nusantara dengan konsisten dibidangnya masing-masing. MPU NALA adalah generasi kedua panglima armada laut Kerajaan Majapahit, ayahandanya dikenal sebagai panglima laut yang memimpin rombongan pertama ekspedisi Pamalayu Singhasari menuju Kerajaan Tumasik (Singapura) di selat Malaka. Maka penunjukannya sebagai Panglima Laut di era pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI ini bersifat mutlak, mengingat banyak pelaut-pelaut yang dahulu mengabdi kepada ayahandanya telah bersumpah setia mendukung kepemimpinannya mengarungi samudra. Dikenal jago pertempuran laut dan pandai menyatukan pasukan laut yang berasal dari beberapa negara bawahan.

Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA adalah tokoh kunci dari politik penyatuan Nusantara lewat SUMPAH PALAPA-nya. Seorang militer tulen yang memulai karirnya dari bawah sebagai bekel bhayangkara dan dikenal cerdas mempelajari ilmu pemerintahan. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh politik NUSANTARA Kerajaan Singhasari Raja SRI KERTANEGARA dan hal ini cocok dengan pemikiran Rani Majapahit (TRIBHUWANA TUNGGADEWI yang juga cucu dari SRI KERTANEGARA) yang mendapat pemahaman serupa dari ibundanya : DYAH AYU GAYATRI.

Keteguhan hati sang MPU MADA dalam mencapai cita-citanya diujinya sendiri dalam berbagai medan pertempuran pada separuh masa kehidupannya. Kemampuannya yang ulet, luwes sekaligus tegas dan tangguh telah mewariskan kepada kita wilayah Negara INDONESIA Raya yang luas ini.

Dalam menjalankan ekspedisinya, kapal panglimanya selalu membawa Tombak Pataka Sang Hyang BARUNA dan mengibarkan panji-panji kebesaran Majapahit (Getih - Getah - Samudra).

Rupanya perjalanan sejarah tersebut diabadikan secara konsisten oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim INDONESIA. Panji-panji Maritim Majapahit tetap dipakai hingga saat ini, bahkan GAJAHMADA dibuatkan monumennya di Markas Komando TNI-AL Surabaya. Keduanya baik MPU NALA maupun  MPU MADA, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang : KRI. NALA dan KRI. GAJAHMADA.


PATAKA SANG PADMANABA WIRANAGARI

Tombak Pataka Nagari kerajaan Majapahit yang ketiga terbuat dari bahan tembaga bernama Sang Padmanaba Wiranagari (Teratai Kemuliaan Pembela Negeri).
Info Majapahit
Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Adalah Pataka yang direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi PAMALAYU di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan kerajaan Singhasari diruntuhkan Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela negara. Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada SANGRAMA WIJAYA sempat tidak diijinkan. Karena SANGRAMA WIJAYA masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya (Raja JAYAKATWANG adalah sepupu SRI KERTANEGARA yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan SANGRAMA WIJAYA melalui kakeknya NARASINGAMURTI).

Kemudian para senopati ini nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari TRIBHUWANESWARI (yang juga putra pertama SRI KERTANEGARA dan istri SANGRAMA WIJAYA). TRIBHUNARESWARI tidak menjawab YA atau TIDAK, hanya bersabda : PENUHI DHARMAMU SEBAGAI KSATRYA. Dan ini yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi PAMALAYU merebut kembali panji pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.

Mereka akhirnya berhasil membawa pulang 5 (lima) panji Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha (yang masih bingung harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa.

Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang Lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Ada 4 (empat) kali perubahan lambang negara Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini. Pada foto diatas adalah lambang kedua yang dipakai pada masa pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI dan Raja SRI RAJASANAGARA DYAH HAYAM WURUK, dimana Majapahit mengalami masa keemasannya. Mengenai keempat Lambang Negara Majapahit dapat anda lihat pada catatan yang lain. Semua Lambang Kerajaan (keempat-empatnya) bernama : SURYA WILWATIKTA. Banyak yang menyebutnya juga sebagai SURYA MAJAPAHIT.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA


Dengan data museum sebagai berikut :

Top of a Scepter
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H. 16 1/16 in. (40.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1987
Accession Number: 1987.142.184
This artwork is currently on display in Gallery 247


Hal ini cukup mengherankan saya, apa hubungan Amerika Serikat dengan sejarah bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).

SANG HYANG NAGA AMAWABHUMI

Pataka Kerajaan Majapahit ke 4 berbentuk tombak naga berbahan tembaga yang dikenal dengan sebutan Sang Hyang Naga Amawabhumi yang artinya Naga Penjaga Keadilan.

SUSUNAN PENGADILAN
Info MajapahitSemua keputusan dalam pengadilan di ambil atas nama Raja yang disebut Sang Amawabhumi yang artinya : orang yang mempunyai atau menguasai negara. Dalam Mukadimah Kutara Manawa (Undang-Undang jaman Majapahit) ditegaskan demikian : Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menetapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah. Jangan sampai orang yang bertingkah salah, luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya.

Dalam soal pengadilan Raja dibantu oleh dua orang dharmadhyaksa, yaitu Dharmadhyaksa Kasaiwan (kepala agama Siwa) dan Dharmadhyaksa Kasogatan (kepala agama Budha) dengan sebutan Dang Acarya. Karena kedua agama tersebut merupakan agama utama dalam Kerajaan Majapahit, maka segala perundang-undangan didasarkan kepada kedua agama tersebut.

Kedudukan Dharmadhyaksa dapat disamakan dengan Hakim Tinggi, mereka itu dibantu oleh lima orang upapatti yang artinya pembantu dharmadhyaksa. Mereka tersebut dalam beberapa piagam atau prasasti biasa disebut dengan sang pamegat atau disingkat samgat artinya sang pemutus alias hakim. Baik Dharmadhyaksa maupun Upapatti bergelar Dang Acarya. Pada mulanya terdapat lima Sang Pamegat yaitu Sang Pamegat TirwanSang Pamegat KandamuhiSang Pamegat ManghuriSang Pamegat Jambi dan Sang Pamegat Pamotan, kelimanya termasuk golongan Kasaiwan.

Pada masa pemerintahan Dyah Hayamwuruk, ditambah dengan dua orang upapatti dari golongan Kasogatan yaitu Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare, sehingga keseluruhan pejabat pengadilan ada dua orang dharmadhyaksa dan tujuh orang upapatti.

Demikian uraian kami tentang empat pataka Kerajaan Majapahit.
 

Raja dan Kerajaan di Simalungun


Raja dan Kerajaan di Simalungun


SIMALUNGUN ( KBNLIPANRI ONLINE )

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang). Demikian pula halnya dalam mengurai asal muasal masyarakat Simalungun, yang banyak berpijak dan tergantung pada aspek diaspora masyarakat Batak (Toba) sehingga, raja dan kerajaan di Simalungun itu dinyatakan berasal dari Batak (Toba).



Padahal, secara struktur dan organisasi sosial, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara kedua suku Batak tersebut, sehingga tidak dengan begitu saja menarik kesimpulan bahwa suku Simalungun merupakan diaspora Batak Toba yang sukses di perantauan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para penulis seperti JV. Vergouwen, Washinton Hutagalung, JR. Hutauruk, Batara Sangti maupun MO. Parlindungan yang kontroversial itu. Yang sangat mengesankan, jika bukan ironis adalah bahwa penulis Simalungun banyak pula yang mengutip pendapat tersebut sebagai sebuah fakta kebenaran tanpa melakukan penggalian lebih lanjut seperti yang dilakukan oleh TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah Simalungun maupun oleh MD. Purba dalam berbagai bukunya yang diterbitkan untuk kalangan sendiri. Akibatnya, sejarah kebudayaan Simalungun menjadi rapuh dan tidak dapat berdiri sendiri.

Simalungan Dalam Literatur
Dalam masyarakat Simalungun tidak terdapat begitu banyak literatur (pustaha) yang mengisahkan tentang riwayat kerajaan tersebut sehingga mengalami kesulitan dalam rekonstruksinya kemudian. Hanya saja, berdasarkan sejarah lisan yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya bahwa setidaknya tiga fase yang disebutkan di atas pernah hidup, berkuasa dan memerintah. Sejarah lisan tersebut, agaknya menjadi pedoman bagi bangsa Eropa seperti Tideman (1922) untuk mengurai Simalungun dalam laporannya sebagai penguasa pada saat itu dan juga bagi penulis Simalungun berikutnya.

Oleh karenanya, masing-masing penulis sejarah di Simalungun membuat rekonstruksi sendiri atas kemauan sendiri dan kepentingan sendiri tanpa terikat waktu, tempat dan ruang. Akibatnya, sejarah tersebut sulit diterima secara umum dan apalagi dipergunakan sebagai rujukan dalam penulisan-penulisan demi kepentingan akademik ilmiah berikutnya.
Jika kemudian terdapat literatur yang mengetengahkan tentang kebudayaan Simalungun, yakni sejarah dan perkembangannya, maka hampir dapat dipastikan bahwa tulisan itu banyak mengadopsi pendapat-pendapat yang banyak ditulis oleh non Simalungun, dan tulisan itu pula banyak bersinggungan dengan pengaruh Agama Kristen yang dilakukan oleh rohaniawan Kristen Simalungun.

Literatur dari masa lampau Simalungun yang masih ada hingga saat ini seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (Hikayat Nagur), Partikkian Bandar Hanopan (Hikayat Silau), Partikian Panai Bolah (hikayat Panai) serta beberapa literatur yang disusun kembali serta ditransliterasi latin oleh JE. Saragih dalam pustaha lak-lak. Menurut Marim Purba, jumlah keseluruhan literatur yang membahas Simalungun, baik dari segi sejarah masa lampau dan masa kini, baik yang ada di luar negeri (Belanda) maupun di Museum Simalungun tak lebih dari 150 judul. Kesulitan lain dari beberapa pustaha tersebut adalah tidak memiliki angka tarikh (tahun) sehingga mengalami kegagalan dalam rekonstruksi kronologis kesejarahannya. Kenyataan ini sangat menyulitkan dalam rekonstruksi sejarah kebudayaan Simalungun berikutnya seperti yang banyak diakui oleh para penulis Simalungun masa kini. Oleh karena itu, diperlukan penggalian mendalam serta penelusuran secara herastik sehingga pelurusan sejarah tersebut dapat dilakukan kembali.

Leluhur Simalungun
Dalam sejarah masyarakat Batak (Toba) seperti yang telah banyak diketahui bahwa masyarakat Batak (Toba) adalah keturunan Siraja Batak yang beranak cucu kemudian menyebar ke berbagai penjuru di Sumatera Utara seperti Mandailing Angkola, Pak-pak Dairi, Karo, Simalungun dan Toba serta Nias. Belakangan, Nias menyatakan bahwa mereka bukan keturunan dari Siraja Batak berdasarkan perbedaan fisik dan budaya lainnya. Dengan begitu, ke lima sub etnik itu adalah merupakan diaspora dari Batak (Toba) yang menyebar ke berbagai wilayah di kawasan itu. Keadaan lain adalah adanya klaim, penarikan garis keturunan (genealogis) berdasarkan marga (clan) yang mengacu pada klan Batak (Toba) dimana semua klan yang ada pada sub etnik Batak tersebut seolah-olah memiliki kemiripan dan kesamaan.

Dalam penguraian sejarah moety masyarakat Batak seperti yang dilakukan oleh BA Simanjuntak dipaparkan bahwa leluhur nusantara (juga Batak) berasal dari dataran tinggi Yunan dekat hulu Sungai Mekong di Cotte dan Napur Hindia Belakang. Kemudian dengan alasan tertentu melakukan migrasi ke berbagai wilayah dan sebagian di antaranya tiba di wilayah nusantara yang menghuni wilayah pantai. Gelombang yang pertama memasuki wilayah nusantara (sebahagian tiba di Sumatera Utara) ini disebut dengan Protomelayu (Melayu dalam). Selanjutnya, dalam rentang waktu tertentu, gelombang migrasi serupa juga terjadi yang disebut dengan Deutromelayu (Melayu luar). Gelombang yang kedua serta memiliki peradaban yang lebih tinggi ini, kemudian mendesak protomelayu ke pedalaman.

Secara signifikan, dapat ditarik korelasi dimana gelombang yang pertama masuk itu pastilah berdiam di Selat Malaka, kemudian mereka terdepak ke daerah pedalaman oleh gelombang migrasi berikutnya hingga ke kawasan Simalungun. Dengan begitu, gelombang yang masuk ke Simalungun pun dapat dinyatakan mengalami dua gelombang, yakni gelombang proto Simalungun dan deutro Simalungun sampai pada akhirnya terbentuk neo Simalungun pasca revolusi berdarah 1946. Dengan begitu, kondisi ini lebih memungkinkan dan hampir mendekati kebenaran sejalan dengan sejarah penyebaran ras-ras umat manusia.

Sejalan dengan itu, sesuai dengan pendapat Uli Kozok (1992) (Profesor Filologi berkebangsaan Belanda) yang mengurangi bahwa di antara bahasa-bahasa Batak, bahasa Simalungun adalah bahasa yang lebih dulu terbentuk, maka asumsi ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk merekonstruksi kembali sejarah Simalungun. Bahasa Simalungun lebih dekat dengan Bahasa Mandailing, dan lebih jauh jika dibanding dengan Bahasa Batak Toba, Karo ataupun Pak-pak. Itu berarti bahwa, kemungkinan suku bangsa Simalungun adalah suku yang pertama ada dibanding suku Batak lainnya. Kendati demikian, penggalian serta penelusuran yang lebih mendalam tentang hal ini senantiasa dilakukan sebagai upaya pelurusan sejarah, khususnya pada masyarakat kebudayaan Simalungun.

Monarki Simalungun
Dalam literatur Simalungun (pustaha laklak) seperti Pustaha Parpadanan Na Bolak (pustaka tertua di Simalungun) yang mengisahkan hikayat kerajaan Nagur (kerajaan Tertua di Simalungun dinasti Damanik) dikisahkan bahwa sewaktu raja Nagur yakni Sormaliat ingin memiliki istri sekaligus sebagai puang bolon (permaisuri) dari putri pamannya (marboru tulang) yang ada di Negeri Padang Rapuhan. Untuk rencana ini, raja memerintahkan utusannya berangkat menuju negeri yang dituju untuk memberitahukan rencana tersebut.

Untuk sampai di negeri tujuan, dibutuhkan perjalanan selama tiga (bulan) dengan berjalan kaki. Berarti, dibutuhkan waktu selama enam bulan untuk kembali ke tempat semula yakni di negeri Hararasan (Kerasaan sekarang) tempat Kerajaan Nagur berdiri.

Dengan estimasi dan kalkulasi tertentu, maka kemungkinan negeri yang dituju adalah Mataram Lama (Medang Faihbhumi). Kejadian itu diperkirakan berlangsung sekitar tahun 550 M bersamaan dengan kejayaan kerajaan Mataram Lama pada waktu itu. Hal ini tentu saja sangat beralasan dimana terdapat kesamaan struktur kerajaan yang sama seperti di Jawa. Di Sumatera hal sedemikian tidak diketemukan dan apalagi di Sumatera Utara. Jika seandainya Padang Rapuhan yang dimaksud dalam hikayat itu adalah negeri Padang (Tebing Tinggi), maka perjalanan yang dibutuhkan tentulah tidak selama itu. Lagi pula, kota Tebing Tinggi tersebut yang dibuka oleh keturunan klan Saragih berkisar tahun 1200-an.

Jadi, berdasarkan penuturan yang terdapat pada hikayat Parpadanan na Bolak tersebut dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun tersebut telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan Catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ternak ayam.

Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern seperti layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Kendatipun pada akhirnya, kerajaan itu hancur dan lebur akibat peristiwa berdarah di Sumatera Timur yang lebih dikenal dengan peristiwa revolusi sosial, dimana pada saat itu, golongan bangsawan dikejar dan dibunuh serta pembakaran istana sebagai dampak economic lag yang terjadi antar kelas.

Keadaan seperti ini bukan semata-mata bertujuan untuk memutus mata rantai integritas serta harmoni kesukuan tetapi yang lebih dipentingkan adalah bagaimana sejarah itu dapat ditegakkan. Karena dari sanalah kita dapat mencapai fakta dan kebenaran sejarah sehingga tidak terjadi pengebirian sejarah di kemudian hari. ( team )


Pers dan Pemprov Sumut Harus Memiliki Visi yang Sama


Pers dan Pemprov Sumut Harus Memiliki Visi yang Sama



MEDAN  ( KBNLIPANRI ONLINE )

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi mengatakan bahwa pers dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut harus menyamakan visi. Sehingga dapat bersama-sama  membangun daerah ini mewujudkan Sumatera Utara yang bermartabat.



Hal itu disampaikan Gubernur Edy ketika menerima pengurus Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumut di ruang kerjanya Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Jumat (23/11).



“Jika visinya tidak sama, maka Sumatera Utara akan ribut terus. Meski misi berbeda, visi haruslah sama. Media massa, memiliki orientasi bisnis. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah. Beda dengan umarah, dia kan tak berbisnis di situ,” ujarnya.



Selain itu, kata Gubernur, semua pihak termasuk pers harus memiliki andil dalam membangun negeri ini menjadi lebih baik, khususnya Sumut. “Republik ini milik kita bersama, semua harus turut andil di dalamnya, walaupun hanya sebesar biji zarah, harus ada andil untuk republik ini,” kata Edy.



Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu Ilyas Sitorus mengatakan pers sebagai mitra dalam menginformasikan program pemerintah kepada masyarakat. Karena itu, kerjasama dan sinergi antara pers dan Pemprov Sumut menjadi keharusan.



“Audiensi ini, selain untuk mempererat silaturahmi antara SPS dan Pemprov Sumut, juga diharapkan untuk meningkatkan kerjasama dan sinergi keduanya,” ujarnya.



Sementara itu, Ketua Serikat Perusahaan Pers Sumut Farianda Putra Sinik mengatakan tujuannya bersilaturahmi dengan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi adalah untuk meminta arahan. “Kami berharap dengan arahan gubernur bisa memberikan langkah-langkah agar media di Sumatera Utara ini menjadi media yang bermartabat,” ujarnya.



Turut hadir pada kesempatan tersebut Sekretaris SPS Rianto Aghly, Bendahara SPS Baharuddin dan sejumlah pengurus SPS Sumut. ( team )



Edy Rahmayadi Motivasi Para Alumni UMA Ciptakan Lapangan Kerja


Edy Rahmayadi Motivasi Para Alumni UMA Ciptakan Lapangan Kerja 

MEDAN, ( KBNLIPANRI ONLINE )

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi memberi motivasi sekaligus berharap agar para alumni Universitas Medan Area (UMA) tidak hanya mampu bersaing di pasar kerja nasional dan internasional, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.

Hal itu disampaikan Gubernur Edy Rahmayadi pada acara Wisuda Program Sarjana dan Magister Universitas Medan Area Periode II Tahun 2018, Sabtu (24/11) di  Gelanggang Mahasiswa Kampus I UMA Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate.



Gubernur mengatakan, bahwa era globalisasi dan teknologi digital saat ini memberikan peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Karena itu para wisudawan harus mampu memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, termasuk  menciptakan lapangan kerja.



Untuk itu, kata Edy Rahmayadi, berbagai persiapan perlu dilakukan untuk menghadapi tantangan dan peluang tersebut. Diantaranya dengan melakukan perbaikan dan penataan sistem pendidikan, agar mampu mendorong perubahan-peribahan yang signifikan dalam menghadapi tantangan tersebut.



"Salah satu yang perlu kita persiapkan adalah sumber daya manusia kini dan mendatang, selain memiliki ijazah akademik, juga memiliki sertifikasi kompetensi dan sertifikasi profesi. Untuk itu kita harus adaptif , kreatif dan inovatif," papar Edy, seraya mengingatkan para wisudawan untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT atas segala prestasi dan pencapaian yang telah diraih.



Sementara itu, Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan MEng MSc menyampaikan, dalam periode ini UMA mewisuda sarjana dan magister dari 20 program studi berjumlah 524 wisudawan, yang terdiri dari 420 orang lulusan sarjana dan 104 orang program magister.



Para wisudawan berasal dari 7 fakultas, yaitu Teknik, Pertanian, Ekonomi dan Bisnis, Hukum , Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Psikologi, Biologi dan Pascasarjana. "Sampai saat ini UMA telah memiliki alumni sebanyak 25.952 orang," jelasnya.



Kata Rektor, pada acara wisuda kali ini, UMA sengaja mengambil tema “Dalam Menghadapi Era Digital UMA Siap Menghasilkan Lulusan yang Inovatif, Kreatif, Kompetitif, Berkarakter dan Mandiri”  sebagai bentuk implementasi bahwa ilmu yang tinggi harus diikuti dengan etika yang luhur.



Rektor juga menjelaskan, universitasnya terus meningkatkan kualitas dan kemampuan yang dimilikinya agar mampu bersaing dan berprestasi di era digital saat ini. Hal ini perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu UMA telah melakukan berbagai kerjasama dengan institusi  akademik maupun non akademik.



"Kerjasama ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama untuk meningkatkan kemampuan  alumni agar mampu bekerja dan bekarya sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya," paparnya.



Hadir pada wisuda tersebut Ketua Yayasan Pendidikan H Agus Salim Drs M Erwin Siregar MBA,  Sekretaris Lembaga Layanan Dikti Dr Mahriyuni MHum, para civitas ( team )

Kota Medan Juara Umum Taekwondo Piala Gubernur Sumut


Kota Medan Juara Umum Taekwondo Piala Gubernur Sumut


MEDAN,( KBNLIPANRI ONLINE )

Kota Medan berhasil menjadi Juara Umum dalam Kejuaraan Provinsi Taekwondo Indonesia (TI) Sumatera Utara (Sumut) 2018 yang memperebutkan Piala Gubernur Sumut. Medan memperoleh 10 emas, 7 perak, dan 3 perunggu.



Piala Gubernur diserahkan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Utara Baharuddin Siagian yang mewakili Gubernur Sumut Edy Rahmayadi di Gelanggang Olahraga (GOR) Komplek Cemara Asri, Medan, Selasa (20/11).



Untuk Juara Umum ke-2 diraih oleh Kabupaten Karo dengan perolehan 7 emas, 3 perak, dan 11 perunggu. Kemudian di peringkat ke-3 diraih oleh Kabupaten Dairi, dengan perolehan 4 emas, 3 perak, dan 11 perunggu. Kejuaraan yang digelar sejak 18 November ini diikuti oleh para atlet taekwondo yang berada di bawah kepengurusan Pengurus Cabang (Pengcab) TI.



Pada kesempatan tersebut, Baharuddin mengatakan Pemerintah Provinsi (Pempov) Sumut, mengharapkan finalis atau atlet berprestasi bisa terus berlatih. Hal tersebut dilakukan untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua. “Nanti di pertengahan 2019, Pemprov bersama KONI Sumut akan melaksanakan Pekan Olahraga Daerah Sumartera Utara, ini akan menjadi akhir seleksi untuk PON 2020,” katanya.



Selain itu, Baharuddin juga mengatakan para juara agar selalu mempertahankan prestasinya. Untuk itu, diharapkan bagi para atlet untuk selalu menjaga fisik dan staminanya. “Sebagaimana teknik bermain, kalau tidak dibarengi kekuatan fisik itu sama saja tidak ada artinya,” ujarnya.



Pemerintah Provinsi, kata Baharuddin, mengapresiasi kejuaraan daerah yang dilaksanakan Pengurus Provinsi TI Sumut tersebut. Menurutnya, turnamen tersebut merupakan contoh yang baik bagi pengurus cabang lain.



“Ini adalah contoh baik tanpa menunggu dari pemerintah, artinya Kejurda seperti ini adalah salah satu momentum untuk menunjukan hasil latihan masing-masing padepokan kabupaten/kota di Sumatera Utara,” jelasnya.



Sementara itu, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Utara Jhon Ismadi Lubis mengatakan semua finalis senior Kejurda tersebut akan mengikuti pelatihan daerah dalam rangka persiapan pra kualifikasi PON 2020. “Ada lagi seleksi akhirnya di pekan olahraga provinsi, di sini diambil yang terbaik yang mengikuti prakualisifkasi PON secara nasional,” ujarnya.



Untuk finalis junior Kejurda, katanya, akan mulai dibina untuk persiapan PON 2024. “Karena kalau mau PON dimulai tidak bisa lagi, para junior ini akan ditampung di Pelatda dengan menggunakan sistem degradasi sampai tahun 2023,” tutur Jhon.



Dikatakan juga, kepada para atlet agar pada PON 2020 meraih emas. “Saya yakin dengan semangat kebersamaan kita raih prestasi terbaik di PON 2020 dan 2024, banggakan Sumatera Utara, banggakan nama ketua umum Pengprov TI Sumut,” ujarnya.



Tahun lalu, Kota Medan juga meraih juara umum pada kejuaraan daerah taekwondo Piala Gubernur. Dengan perolehan 6 emas, 4 perak, dan 4 perunggu. Juara umum mendapatkan hadiah uang pembinaan.( team )


Sabrina Motivasi Masyarakat Desa Sigapiton Gali Potensi Argowisata dan Pariwisata


Sabrina Motivasi Masyarakat Desa Sigapiton Gali Potensi Argowisata dan Pariwisata




TOBASA, ( KBNLIPANRI ONLINE )

Sekretaris Daerah Sumatera Utara (Sekdaprov Sumut) Dr Ir Hj R Sabrina MSi memotivasi warga Desa Sigapiton untuk menggali potensi argowisata dan pariwisata Danau Toba. Sehingga Desa Sigapiton menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa.

 

Hal itu disampaikan Sekdaprov Sumut Sabrina pada Peresmian Kerjasama Pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Toba, Bank Indonesia (BI) dengan Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba, Jumat (16/11) di Desa Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa).



“Saya melihat Desa Sigapiton yang terletak di dinding Danau Toba memiliki potensi yang besar, yang dapat dikembangkan, terutama untuk sektor pariwisata, baik itu dari potensi argowisata maupun dari sisi pariwisatanya,” ujar Sabrina.



Dikatakan Sabrina, dilihat dari struktur tanahnya Desa Sigapiton juga sangat berpotensi menjadi pusat pengembangan budidaya bawang merah. Apalagi, diketahui desa tersebut dahulunya merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah  yang berkualitas baik dan rasa yang khas.



“ Dulunya desa ini merupakan penghasil komoditi bawang merah yang jauh lebih baik dari produksi daerah lain di Sumut. Misalnya dari kualitas dan mutunya sangat disukai oleh masyarakat Sumut, juga para wisatawan, baik dalam negeri maupun manca negara. Wisatawan juga bisa melihat langsung, bahwa tanaman bawang merah bisa tumbuh di antara bebatuan,” kata Sabrina lagi



Begitu juga dari sisi pariwisatanya, Desa Sigapiton dapat maju dan berkembang seperti desa lainnya yang berada di kawasan Kaldera Toba. Sebab desa tersebut memiliki panorama dan wisata pantai yang tidak kalah indahnya dengan lokasi lainnya di Danau Toba.



“Pantai Desa Sigapiton juga sangat indah, maka saya sangat mendukung pengembangan desa ini menjadi objek wisata dan itu harus didukung semua pihak, khususnya warga sekitar dan Pemkab Tobasa juga CSR, bila tidak maka ini semua hanya menjadi potensi saja,” jelasnya.



Seperti yang diketahui bahwa pemerintah pusat melalui kebijakannya menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia, maka Pemprov Sumut dan Pemkab sangat mendukung pengembangan wisata di desa tersebut.



Kendati demikian, kata Sabrina, pembangunan infrastruktur ke desa tersebut harus terus ditingkatkan agar konektivitas antara Desa Sigapiton maupun ke ibukota kabupaten bisa lebih lancar, hingga warga desa maupun masyarakat dari luar, khususnya wisatawan dalam maupun mancanegara bisa dengan mudah melihat objek dan menikmati keindahan  desa  tersebut.



Potensi ini mendapat dukungan dari Pemkab Tobasa. Wakil Bupati Tobasa Hulman Sitorus sangat bangga dengan Desa Sigapiton yang menjadi perhatian dari berbagai pihak, khususnya perbankan yang mengucurkan bantuan untuk menumbuhkan gairah perekonomian masyarakat.



"Seperti yang dikatakan Bu Sekdaprov Sabrina, bahwa desa ini memilik potensi untuk membangkitkan perekonomian masyarakat, baik dari sektor pariwisata maupun argowisata (budidaya bawang merah),"paparnya.



Oleh karena itu, baik Pemprovsu, Pemkab Tobasa, Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba,  maupun Perbankan akan membangun Desa Sigapiton menyusul daerah lainnya, yang sudah menjadi destinasi pariwisata seperti pantai Bulbul.



Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba Arie Prasetyo bahwa sesuai arahan Presiden Republik Indonesia untuk menjadikan Danau Toba sebagai salah satu objek wisata utama Sumut.



Begitu juga Pjs Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut menyampaikan, bahwa Desa Sigapiton harus dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata di Danau Toba. Diantaranya melalui pengembangan agrowisata bawang merah.



Usai acara peresmian yang ditandai dengan penandatanganan MoU antara BI dengan Pemkab Tobasa dan Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba,  Sekdaprov Sumut Sabrina bersama rombongan juga melakukan penanaman bawang merah secara simbolis. Rencananya, penanaman bawang  akan menggunakan lahan seluas 2,5 hektar  dengan bibit bawang sebanyak 2,5 ton dari varitas terbaik.( team )


Bertemu Jajaran Pemerintahan se-Kepulauan Nias, Edy Bandingkan Nias dengan Manado


Bertemu Jajaran Pemerintahan se-Kepulauan Nias, Edy Bandingkan Nias dengan Manado


Nias Selatan, ( KBNLIPANRI ONLINE )

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi bertemu dengan para Bupati dan organisasi perangkat daerah (OPD) se-Kepulauan Nias di pendopo rumah dinas Bupati Nias Selatan, Teluk Dalam, Nias Selatan, Jumat malam (16/11).



Pada kesempatan itu, Gubernur Edy mengatakan Nias punya potensi lebih besar jika dibandingkan dengan Manado. Terutama potensi sumber daya alamnya. Tetapi pariwisata di Manado berkembang lebih pesat dan banyak dikunjungi wisatawan, baik nasional maupun manca negara. "Manado masih kalah potensinya ketimbang surga kecil yang diberikan di Nias ini," ujar Edy.



Selain itu, Edy menyebut Nias sebagai wisata selancar nomor 2 dunia setelah Hawai. Hawai hanya menang kemajuan infrastruktur. "Ini Nias belum apa-apa sudah nomor 2, apalagi diberi infrastruktur yang bagus?" katanya.



Untuk itu, Edy minta agar seluruh jajaran pemerintah se-Kepulauan Nias untuk bersama sama membangun Nias. "Namanya Nias, cantik namanya. Saya tidak tahu kenapa tak maju di sini," katanya.



Nias adalah pulau mandiri. Karena itu, menurut Edy, Nias harus mengandalkan sumber daya alamnya yang dimilikinya untuk maju. "Jika menanam buah tanamlah untuk dimakan orang Nias, sebab jika mengirim buah kemari membutuhkan biaya lebih," ujarnya.



Gubernur juga berpesan kepada jajaran pemerintahan se-Kepulauan Nias, agar bersatu dalam pembangunan. Jangan sampai orang Nias hanya jadi penonton di rumah sendiri. "Jangan hanya bule yang menikmati," kata Edy.



Terkait pembangunan, kata Gubernur, kepala desa adalah yang menjadi ujung tombaknya. Hal tersebut harus diperhitungkan agar Sumatera Utara yang bermartabat dapat terwujud. "Kita ingin membangun desa menata kota," ujarnya.



Edy mengajak jajaran pemerintahan se-Kepulauan Nias agar berpikir bersama-sama apa yang terbaik untuk masyarakat Nias. Pembangunan jangan hanya melulu jalan raya. "Rakyat tak cukup makan jalan, pikirkan jalan ini mau dipakai untuk apa, itu yang penting," ujarnya



Koordinator Forum Kepala Daerah (Forkada) sekepulauan Nias, yang juga Bupati Nias Barat Faduhusi Daely mengharapkan arahan yang diberikan Gubernur Edy Rahmayadi dapat memberikan semangat bagi OPD dan jajaran pemerintahan di Pulau Nias. “Hal itu demi kemajuan pembangunan di Kepulauan Nias,” katanya.



Turut hadir pada kesempatan tersebut OPD Provinsi Sumut, para Bupati dan OPD se-Kepulauan Nias.



Pada kunjungan kerjanya yang kedua ini, rencananya Gubernur Edy juga akan membuka Pesta Yaahowu 2018 di Teluk Dalam, Nias Selatan.( team )


Wagubsu Hadiri Rapat Koordinasi Pembina Samsat Nasional 2018 di Bali


Wagubsu Hadiri Rapat Koordinasi Pembina Samsat Nasional 2018 di Bali


DENPASAR, ( KBNLIPANRI ONLINE )

Melaksanakan ibadah shalat subuh berjamaah di masjid senantiasa menjadi aktivitas wajib bagi Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Musa Rajekshah. Dalam kunjugan kerjanya ke Bali, Wagub Musa Rajekshah shalat subuh berjamaah di Masjid Baitul Makmur Jalan Gunung Merbuk No 4 Denpasar, Kamis (15/11).

Usai melaksanakan shalat, Wagub Musa Rajekshah yang juga akrab disapa dengan Ijeck,  memperoleh kehormatan dari pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Baitul Makmur untuk mengisi Tausiyah sekaligus berbagi cerita tentang Sumut kepada para jamaah. Salah satunya tentang keragaman dan toleransi umat beragama di Sumut.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya diminta untuk mengisi tausiyah di masjid ini. Masjid yang pernah saya baca di media, merupakan masjid di Indonesia yang jamaah shalat subuhnya terbanyak. Ratusan, bahkan mencapai seribu saat akhir pekan. Luar biasa sekali,” ujarnya mengawali tausiyah.

Dalam tausiyahnya, Ijeck yang juga didampingi Asisten Administrasi Umum dan Aset Zonny Waldi S Sos MM, mengajak dan memotivasi para jamaah untuk beribadah melalui pekejaan atau keahlian masing-masing. Terlebih-lebih, saat memiliki pekerjaan yang menyangkut kemaslahatan hidup orang banyak.

“Bukan sebaliknya, menggunakan kekuasaan atau jabatan yang kita punya untuk kepentingan sendiri. Mudah-mudahan kita dijauhkan Allah dari perbuatan seperti itu. Mari bekerja dengan hati ikhlas sesuai bidang masing-masing, menjadi manusia bermanfaat untuk umat dan negara,” katanya.

Terkait keberagaman dan toleransi umat beragama di Sumut, Ijeck menjelaskan bahwa Sumut terkenal dengan provinsi yang rukun dan harmonis. Terdiri dari 33 kabupaten/kota dengan ciri khas masing-masing, agama, dan suku yang berbeda-beda tidak serta merta menjadikan Sumut untuk mudah terpecah belah.

“Perbedaan dan keberagaman justru menjadi kekuatan dan kekayaan bagi Sumut. Semangat memelihara perbedaan ini tercermin dari sikap masyarakat Sumut yang cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan. Termasuk perbedaan politik saat pilkada serentak beberapa bulan yang lalu,” jelasnya.

Sementara itu, mewakili pengurus Masjid Baitul Makmur BKM H Umar menyampaikan pujian kepada Ijeck. Dengan usia yang relatif masih muda, Ijeck mampu mengemban amanah sebagai Wagub Sumut.

“Masyarakat Sumut patut bangga memiliki Wagub seperti Bapak Musa Rajekshah, masih muda dan cerdas. Mudah-mudahan menginspirasi generasi muda muslim lainnya, tidak hanya di Sumut tapi juga di Bali ini,” ucapnya.

Umar membenarkan bahwa Masjid Baitul Makmur senantiasa memiliki jumlah jamaah shalat subuh yang banyak, khususnya di akhir pekan. Setiap ahad, digelar pengajian yang mendatangkan ustad-ustad dari luar Pulau Bali. “Dan hari ini, kita kedatangan Wagub Sumut. Meskipun spontan tanpa persiapan, bisa sampaikan Tausiyah dengan mantap,” tuturnya. ( team )